Presiden Setelah SBY Harus Berani Hentikan Impor Pangan

Foto: betapartainasdemo

Jakarta, Sayangi.com – Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani, termasuk dalam menghentikan impor pangan. Oleh karenanya, presiden setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpilih pada Pilpres 2014 harus memiliki keberanian melakukan langkah tersebut.

“Pemimpin Indonesia di 2014 adalah seseorang yang bisa memihak kepada kepentingan rakyat, salah satunya mencari solusi atas permasalahan pangan, karena belum ada dan belum pernah ada pemimpin di Indonesia yang mampu menghentikan impor pangan,” kata Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat (NasDem) Rio Patrice de Capella di Jakarta, Selasa (24/12/2013).

Ia berpendapat pemimpin yang ada saat ini belum memihak kepada kepentingan rakyat. Pemimpin seharusnya lebih aktif mencari solusi atas isu-isu aktual yang terjadi di masyarakat, sehingga lebih serius mengelola negara.

Ketika ditanya apakah Partai NasDem sudah memiliki kriteria tersebut, menurut dia, bukan masalah sudah atau belum punya, tetapi bagaimana partai mampu mencarikan solusi kepada pemimpin Indonesia yang baru tentang berbagai macam permasalahan yang menimpa Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras dari Januari-September 2013 mencapai 353.485 ton atau 183,3 juta dolar AS. Impor beras terbesar ini datang dari Vietnam dengan volume 18.000 ton atau mencapai 11,1 juta dolar AS di September 2013.

Selain dari Vietnam, Indonesia juga mengimpor beras dari India sebanyak 24.000 ton atau sekitar 9,5 juta dolar AS, dari Thailand dengan 5.297 ton atau 4,1 juta dolar AS, Pakistan sebesar 1.500 ton, dan dari negara lainnya sebesar 953 ton atau 1,67 juta dolar AS.

Sementara itu hasil survei sementara sepanjang Mei 2013, BPS mencatat penduduk yang bertani sebagai pekerjaan sehari-hari semakin berkurang. Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian saat ini sebesar 26,13 juta.

Sensus terakhir pada 2003, jumlah rumah tangga usaha pertanian mencapai 31,17 juta rumah tangga. Dengan demikian sebanyak 5,04 juta petani “hilang” atau tidak lagi menjadi petani.

Berita Terkait

BAGIKAN