Ini Enam Saran Kebijakan Ekonomi Jelang Pemilu 2014

Foto: outsidethebeltway

Depok, Sayangi.com – Fundamental ekonomi Indonesia perlu mendapat energi ekstra agar dapat lebih kokoh menghadapi volatilitas ekonomi global pada 2014, karena ada pesta pemilu yang menjadi salah satu penentu stabilitas ekonomi.

“Stabilitas dan suksesnya Pemilu menjadi indikator dasar untuk memuluskan program-program kerja di 2014,” kata Peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Rizal E. Halim ketika menjelaskan proyeksi ekonomi Indonesia 2014, Selasa (24/12/2013).

Ia mengatakan pada tahun depan juga dibutuhkan pembauran kebijakan penopang stabilitas ekonomi agar perekonomian Indonesia tetap berjalan dengan baik di tahun politik tersebut.

“Syarat mutlak yang dibutuhkan atau necessary condition adalah kestabilan politik pada pemilu 2014,” jelasnya.

Dikatakannya stabilitas dan suksesnya Pemilu menjadi indikator dasar untuk memuluskan program-program kerja di 2014.

Rizal menyarankan, pertama agar pemerintah bisa memangkas subsidi BBM secara berkualitas atau bertahap hingga maksimal menjadi 30 persen di akhir 2014.

Kedua, kebijakan importasi perlu mendapat perhatian khsusus terutama barang-barang yang dapat diproduksi di dalam negeri. Ketiga, mendorong industrialisasi dan hilirisasi untuk tumbuh pada kondisi full speed (atau double digit).

Selanjutnya keempat mengendalikan pasokan energi dan pangan melalui lembaga-lembaga yang selama ini dipercaya sebagai pengelola sektor energi dan pangan. Kelima, percepatan infrastruktur khususnya di luar Jawa untuk mendorong penyebaran pembangunan.

Sedangkan keenam, membenahi SDM pada mesin-mesin birokrasi yang tidak efisien dan menjadi beban bagi kesinambungan anggaran.

Ia juga mengatakan risiko terbesar yang perlu diwaspadai yaitu neraca transaksi berjalan dengan defisit neraca perdagangan yang dapat mereduksi program ekonomi lainnya.

“Kinerja ekspor non migas perlu untuk terus digenjot khsusunya barang/jasa yang bernilai tambah tinggi, sementara impor migas perlu ditekan. Dengan demikian neraca transaksi berjalan dapat diperkuat,” katanya.

Dikatakannya potensi ini sangat besar mengingat 2014 akan terjadi perbaikan tingkat permintaan global untuk barang dan jasa setelah dalam tiga tahun terkahir tertekan.