Pelepasan Kalong Warnai Natal Bernuansa Lingkungan

dananwahyu.com

Lumbanjulu, Sumut, Sayangi.com – Lima ekor Kalong dilepaskan ke alam bebas dalam memeriahkan perayaan Natal bernuansa lingkungan yang diselenggarakan warga Desa Lumbanrang, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, sebagai upaya melestarikan binatang yang sudah mulai langka tersebut.

“Hewan pemakan buah dengan berat masing-masing berkisar dua kilogram itu merupakan sumbangan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara,” kata Pengelola Taman Eden 100, Marandus Sirait di Lumbanjulu, Rabu (25/12).

Dikatakannya, gagasan membuat refleksi akhir tahun dengan merayakan natal yang diwarnai pelepasan Kalong, muncul dari sejumlah anak muda pecinta lingkungan wilayah setempat, karena merasa gelisah melihat kondisi ekosistem hutan yang berpotensi mengganggu kelestarian danau Toba.

Penerima Kalpataru kategori perintis lingkungan tahun 2005 itu menyebutkan, penyelenggaraan natal dalam nuansa berbeda di desa itu, sebagai upaya menggugah semangat warga untuk menjaga pelestarian binatang langka yang semakin menghadapi kepunahan tersebut.

Selain menjaga keseimbangan ekosistem dengan mempertahankan keanekaragaman hayati, kata Marandus, Kalong banyak dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit asma, karena daging binatang yang dikonsumsi tersebut diduga bisa menghangatkan badan manusia.

Mungkin, lanjut dia, setelah dimakan, daging Kalong akan berasimilasi dengan oksigen sehingga pembakaran tubuh semakin tinggi panasnya, kemudian membuat penderita asma mendapatkan rasa hangat di bagian paru.

Marandus berharap, semangat memulihkan ekosistem hutan dan kondisi kawasan danau Toba dapat tersampaikan kepada semua pihak, terutama Pemerintah, agar kelestarian lingkungan dapat terus terjaga.

Selain acara seremonial Natal, lanjutnya, mereka juga akan melaksanakan penanaman sejumlah pohon khas yang sudah mulai langka dan hanya tumbuh di sekitar kawasan hutan Toba, serta pelepasan berbagai jenis burung.

Saat ini, menurut Marandus, kawasan hutan Toba diperkirakan hanya tinggal 15 persen lagi, sementara penjarahan hutan tak kunjung berhenti, hingga mengakibatkan terganggunya habitat berbagai keragaman hayati.

Meski kerusakan sistematik terus terjadi dan sering menjadi sorotan publik, kata dia, bukan berarti pengrusakan alam danau Toba semakin menciut, malah sebaliknya terus membesar.

Diakuinya, karunia keindahan danau Toba sulit dibantah, karena setiap sudutnya sangat menakjubkan, sehingga tidak berlebihan jika saat ini danau terluas di Asia tenggara tersebut diperjuangkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu situs warisan dunia.

“Kami ingin menyampaikan pesan natal, agar seluruh pemangku kepentingan di kawasan danau Toba dapat menyadari pentingnya memelihara kelestarian lingkungan yang berkelanjutan,” kata Marandus. (MD/Ant)

Berita Terkait

BAGIKAN