Inilah Kisah ‘Rebutan PKB’ antara Muhaimin dan Yenny Wahid

Foto: sayangi.com/maskawi

Jakarta, Sayangi.com – Jelang Pemilu 2014, konflik antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dengan Yenny Wahid (puteri KH. Abdurrahman Wahid) kembali mengemuka. Yenny menuding PKB “munafik” karena menggunakan gambar dan simbol Gus Dur dalam kegiatannya, padahal Muhaimin dan sejumlah elit PKB juga yang menyingkiran Gus Dur dari partai yang didirikan oleh Gus Dur tersebut.

Mencuatnya kembali konflik ini mengingatkan kembali pada masa-masa menjelang Pemilu 2009. Pada 9 Juli 2009 itu, KPU mengadakan undian nomor urut partai politik peserta Pemilu. Semua pimpinan partai politik hadir, termasuk pimpinan PKB. Hanya saja yang hadir dari PKB ada “dua kubu”, yaitu kubu Muhaimin dan kubu Yenny. Muhaimin merupakan ketua umum PKB hasil muktamar luar biasa di Ancol, sedangkan Yenny Sekjen PKB hasil muktamar luar biasa di Parung, Bogor.

Pemandangan unik terjadi saat petugas KPU memanggil pimpinan PKB untuk mengambil nomor urut. Muhaimin dan Yenny sama-sama maju. Di situlah terjadi ‘perebutan’ kertas berisi nomor urut. Muhaimin dan Yenny sudah sama-sama memegang kertas yang yang sama yang disodorlan panitia. Namun rupanya Yenny kalah kuat dibandingkan dengan Muhaimin, sehingga kertas surat nomor urut itu akhirnya berhasil direbut Muhaimin.

Perebutan kertas nomor urut ini menjadi perhatian seluruh peserta partai politik yang hadir, termasuk para wartawan. Apalagi sebelum pengundian dimulai, Yenny dengan percaya diri langsung menghadap Ketua KPU dan menyatakan di depan forum bahwa PKB yang dipimpin Abdurrahman Wahid adalah partai yang sah sebagai peserta Pemilu 2009.

Sebelum pengambilan nomor urut partai sudah tampak ketegangan di antara keduanya. Sejak awal hingga akhir proses pengundian politisi NU itu tidak tampak saling tegur sapa, walaupun para wartawan telah meminta keduanya untuk saling menyapa.

Hampir lima tahun peristiwa itu berlalu. Pemilu 2014 segera digelar bulan April tahun depan. Tetapi tidak ada tanda-tanda kedua tokoh yang mewakili dua kubu itu itu akan ishlah. Bahkan, konfliknya cenderung meruncing. Yenny adalah putri Gus Dur, sedangkan Muhaimin adalah putra dari adik Nuriyah Abdurrahman Wahid (istri Gus Dur). (MSR)