Ancam Sabotase Pemilu, Demonstran Bentrok dengan Polisi Thailand

Foto: Reuters

Bangkok, Sayangi.com – Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet pada Kamis (26/12) pagi, untuk mencegah pengunjuk rasa antipemerintah menyerbu ke tempat pendaftaran pemilu Thailand.

Akibatnya, para demonstran yang hendak menghalang-halangi rapat yang membahas nomor dan gambar partai sebagian mengalami luka-luka. Jaringan Mahasiswa dan Masyarakat untuk Reformasi Thailand (NSPRT) yang dipimpin oleh Uthai Yodmanee, kelompok sempalan Komite Reformasi Rakyat Demokratis (PDRC) menggerakkan massa dari beberapa basis demonstran di Jembatan Chamai Maruchet ke sebuah stadion olahraga.

Para pengunjuk rasa kemudian mencoba masuk ke stadion pada saat rapat mengenai jumlah dan gambar partai peserta pemilu sedang berlangsung di dalam gedung. Mereka mengabaikan peringatan polisi, seraya menggunakan pemotong baut untuk memutuskan rantai pengunci pintu gerbang. Beberapa benda pun dilemparkan kepada polisi, memaksa petugas menembakkan gas air mata dan peluru karet, sekitar pukul 07.30 waktu setempat.

Gas air mata sebentar-sebentar ditembakkan oleh polisi untuk memaksa para pengunjuk rasa melarikan diri dan berlindung di bangunan di dekatnya. Di sini dikabarkan banyak pemrotes mengalami cedera. Tiga polisi juga terluka oleh gas air mata yang ditembakkan oleh sesama petugas dan mereka segera dikirim ke Rumah Sakit.

Di dalam gedung, Komisi Pemilihan Umum berhasil menyelesaikan sidang mengenai jumlah dan gambar partai peserta pemilu. Para perwakilan dari 32 partai politik menghadiri proses itu. Dalam pidato televisi nasional, Wakil Perdana Menteri sementara Surapong Tovichakchaikul, dalam kapasitasnya sebagai Direktur Pusat Administrasi Ketentraman dan Ketertiban (CAPO) mengatakan, polisi harus menggunakan gas air mata untuk melindungi calon peserta pemilu dan pejabat negara pada saat pengunjuk rasa mencoba menghalangi pendaftaran partai yang hendak ikut Pemilu.

Surapong mengatakan, protes itu tidak damai seperti yang diklaim sebelumnya oleh pemimpin demonstran Suthep Thaugsuban. Dia menekankan, polisi menerapkan standar internasional dalam melaksanakan tugas mereka untuk melindungi aset negara dari kerusakan. (MSR/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN