Boxing Day : Bermula dari Sedekah Majikan kepada Kaum Pekerja

blog.moveguides.com

Sayangi.com – Di hari Natal, biasanya setiap pekerja di Inggris diberi hadiah oleh bosnya berupa kotak (Box) natal. Karena itu pula hari ketika para pekerja bersuka-cita setelah mendapatkan kotal natal, hari yang jatuh tanggal 16 Desember itu disebut Boxing Day.

Dalam perkembangannya, Boxing Day dimeriahkan oleh berbagai kegiatan. Ada yang menghabiskan waktunya ke pusat-pusat perbelanjaan, ada pula yang ke tempat rekreasi, termasuk menonton sepakbola.

Tradisi Boxing Day, selain ada di Inggris juga ada di negara-negara persemakmuran lainnya, khususnya yang agama penduduknya menganut Kristen, seperti Canada, Afrika Selatan, Australia, Hongkong dan Selandia Baru.

Di Afrika Selatan, Boxing Day pada 1994 diubah menjadi Goodwill Day. Di Irlandia dikenal sebagai Hari Santo Stefanus. Di banyak negara Eropa, seperti Jerman, Polandia, Skandinavia dan Belanda, tanggal 26 Desember diperingati sebagai Hari Natal Kedua.

Asal-Usul

Tak ada rujukan yang paling pas untuk peristilahan Boxing Day. Di Eropa, tradisi memberikan uang atau hadiah kepada seseorang yang kedudukannya lebih rendah sudah ada sejak abad pertengahan. Dalam hal ini, diyakini adanya kotak (Box) untuk mengumpulkan sumbangan yang dibagikan kepada orang miskin.

Di era sebelum Kristen, di Roma, Saturnalia adalah perayaan Romawi tatkala pemilik budak “bertukar nasib” dengan budak-budaknya. Pemberian hadiah merupakan bagian dari Saturnalia, selanjutnya tradisi itu berkembang ke Inggris.

Ada juga rujukan menyebutkan, Boxing Day berasal dari kebiasaan di awal era kristen Romawi, di mana kotak logam ditempatkan di luar gereja yang digunakan untuk mengumpulkan persembahan khusus terkait Pesta St Stephen 26 Desember.

Ancient Yule festivals lie behind much of our British Christmas: Boxing Day Performance by Marshfield Paperboys

Di Inggris, Boxing Day adalah kostum para majikan untuk mengumpulkan “kotak Natal” berisi uang atau hadiah yang diberikan kepada pekerja di hari kerja pertama setelah Natal, sekaligus sebagai wujud penghargaan atau pengabdian pekerjanya selama satu tahun.

Dalam catatan harian Samuel Pepys tanggal 19 Desember 1663 tertulis, karena hari Natal harus melayani keperluan majikan, maka sehari setelah itu para pekerja diijinkan berlibur mengunjungi keluarga mereka. Di hari itulah para majikan memberikan kotak berisi uang atau makanan sisa.

Diwarnai Belanja

Boxing Day di Toronto

Namun dalam beberapa dasa-warsa terakhir, Boxing Day di Inggris lebih diwarnai kegiatan belanja. Di hari itu, apapun Mal diserbu pembeli, mirip Black Friday (sehari setelah Thanksgiving ) di AS. Maklum saja, di hari itu biasanya toko-toko menawarkan diskon gila-gilaan.

Di hari Boxing Day itu pula, Asosiasi klub-klub sepakbola profesional di Inggris (FA) juga tidak kalah sigap dengan menggelar pertandingan di hari yang sangat ditunggu-tunggu warga Inggris itu.

Karena tidak memberikan libur kepada pemainnya di hari Natal itu pula, maka Presiden UEFA (Asosiasi Sepakbola Eropa) Michael Platini selama karirnya baik sebagai pemain maupun pelatih sepakbola, enggan berkiprah di Inggris. (MD)