Polres Cilacap Bongkar Sindikat Pemalsu Dokumen

Antara

Cilacap, Sayangi.com – Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Cilacap, Jawa Tengah, membongkar sindikat pembuat dokumen palsu seperti akta nikah, surat cerai, kartu tanda penduduk, dan ijazah.

“Dalam kasus ini, kami menangkap dua tersangka, yakni Siswo dan Saen Marzuki,” kata Kepala Polres Cilacap Ajun Komisaris Besar Polisi Andry Triaspoetra, di Cilacap, Jumat (27/12).

Ia mengatakan bahwa kasus ini terungkap berkat laporan dari salah satu korban, Sulastri, warga Desa Pagubugan, Kecamatan Binangun, Cilacap.

Menurut dia, korban yang telah bercerai dan menikah dengan pria lain baru mengetahui adanya pemalsuan surat cerai ketika mantan suaminya hendak menikah dengan perempuan lain.

Dalam hal ini, kata dia, surat cerai tersebut tersebut ditolak dan dinyatakan palsu oleh penghulu.

Setelah mendapatkan laporan dari korban, lanjut dia, Polres Cilacap segera melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil menangkap dua pelaku pemalsuan dokumen di Kecamatan Kawunganten.

“Selain menangkap dua tersangka tersebut, kami juga mengamankan peralatan komputer berikut printer serta ratusan dokumen palsu seperti KTP palsu, akta nikah, ijazah, dan surat cerai,” katanya.

Menurut dia, pihaknya masih akan menyelidiki dan mengembangkan kasus tersebut karena kedua tersangka telah beroperasi sejak 2010, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain.

“Dimungkinkan tindak pidana pemalsuan ini juga diketahui oleh warga yang sengaja datang untuk meminta dibuatkan dokumen palsu,” katanya.

Sementara itu, korban Sulastri mengaku mengajukan perceraian dengan suaminya pada 2011 saat masih bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri.

Oleh karena itu, dia pun meminta tolong kepada ibundanya untuk membantu mengurus perceraian tersebut.

“Kebetulan tetangga saya juga baru mengurus perceraian melalui Pak Marzuki, sehingga ibu saya pun meminta tolong padanya secara borongan. Pokoknya, saya tahunya beres meskipun hasilnya lama dan mengeluarkan biaya sebesar Rp3,5 juta,” katanya.

Akan tetapi saat mantan suaminya hendak menikah kembali pada 2012, kata dia, surat cerai tersebut ditolak dan dinyatakan palsu sehingga batal menikah.

“Saya juga baru tahu kalau surat cerai itu palsu ketika mantan suami saya hendak menikah. Saya pun sekarang sudah menikah kembali sehingga harus membatalkan pernikahan itu karena surat cerainya palsu,” kata dia yang didampingi pengacaranya, Sugeng Anjili.

Terkait hal itu, Sulastri melalui pengacaranya melaporkan Saen Marzuki yang merupakan petugas pencatat nikah itu kepada polisi.

Saat ditanya wartawan, Saen Marzuki mengaku jika dia didatangi oleh seseorang yang minta tolong untuk dibantu mengurus perceraian.

Akan tetapi, kata dia, perceraian tersebut tidak dilakukan melalui sidang cerai di pengadilan agaman melainkan dengan cara memalsukan surat cerai.

Menurut dia, pemalsuan dokumen tersebut dibantu oleh Siswo dengan memungut biaya jasa dari setiap pasangan sebesar Rp3 juta hingga Rp5 juta.

Sementara itu, Siswo mengaku hanya membantu membuatkan surat cerai palsu atas dasar permintaan dari Saen Marzuki yang merupakan mantan petugas pencatat nikah.

“Saya memasang tarif sebesar Rp300 ribu untuk setiap dokumen yang dibuat,” katanya. (MD/Ant)