Noda di Balik Prestasi KPK yang Menghebohkan Pada 2013

Foto: sayangi.com/dok

Jakarta, Sayangi.com – Sepanjang 2013, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) banyak melakukan langkah menghebohkan dengan menangkap elit-elit yang terlibat skandal korupsi di negeri ini. Namun, prestasi tersebut sedikit ternodai dengan banyaknya keteledoran KPK yang menyebabkan bocornya surat perintah penyidikan (sprindik) maupun berita acara pemeriksaan (BAP).

Dalam catatan Sayangi.com, setidaknya ada tiga kebocoran yang terjadi di KPK di bawah Pimpinan Abraham Samad ini.

  1. Bocornya surat perintah penyidikan (Sprindik) milik mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Surat yang mestinya dirahasiakan KPK ini bocor ke publik sebelum KPK mengumumkan secara resmi Anas sebagai tersangka dalam kasus Hambalang, pada Jumat 22 Februari lalu. KPK sudah memastikan bahwa salinan draf itu asli, sehingga perlu ada tim etik untuk mengusut siapa pembocor dokumen berklasifikasi rahasia negara ini.

    Dari penelusuran Komite Etik KPK, diputuskan Ketua KPK Abraham Samad terbukti melakukan pelanggaran tingkat sedang kode etik terkait kasus kebocoran konsep sprindik kasus Anas Urbaningrum. Sanksinya berupa teguran. Alasannya karena ia dianggap lalai mengawasi Wiwin Suwandi, sekretarisnya yang ditetapkan sebagai pelaku utama pembocoran Sprindik tersebut.

    Karena alasan ini, Komite Etik meminta agar Abraham Samad memperbaiki sikap, tindakan, dan perilaku. Sedangkan nasib Wiwin meski tidak dibawa ke ranah hukum, namun ia dipecat. Dalam putusan Komite Etik KPK disebutkan bahwa Abraham Samad tidak bersedia menyerahkan BB miliknya kepada Komite Etik untuk dilakukan proses cloning agar dapat diketahui komunikasi lengkap antara Abraham Samad sebagai Terperiksa I dengan pihak yang terkait.

  2. Bocornya surat perintah penyidikan (Sprindik) milik Menteri ESDM Jero Wacik. Peristiwa ini terjadi pada awal September 2013. Dalam sprindik itu disebutkan bahwa KPK yang telah menetapkan Jero Wacik sebagai tersangka kasus suap yang melibatkan PT Kernel Oil Indonesia. Sprindik itu ditandatangani Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Dalam sprindik tersebut, juga terdapat catatan bertuliskan, “Tunggu persetujuan presiden (RI-1)”.

    Sprindik Jero Wacik ini tidak diusut secara tuntas. Namun mengenai nasib Jero Wacik sendiri, ia belum ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat ini baru diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap Ketua Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Rudi Rubiandini.

  3. Bocornya Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Rudi Rubiandini terjadi pada 29 Oktober 2013. Dalam BAP itu disebutkan adanya politisi Partai Demokrat yang juga Ketua Komisi VII Sutan Batoegana. Disebutkan bahwa pada awal bulan puasa lalu, Sutan pernah meminta THR untuk Komisi VII kepada Rudi selaku Kepala SKK Migas.

    Dalam BAP itu juga menyebutkan lokasi-lokasi tempat Kepala SKK Migas Non aktif itu bertemu dengan Sutan, yakni di Pacific Place Bellagio dan Plaza Senayan. Sutan, bahkan dalam dokumen itu disebut pernah mengenalkan kepada Rudi seorang pengusaha yang mengklaim pernah ikut tender di SKK Migas.

     

Berita Terkait

BAGIKAN