Bom Mobil Tewaskan Penasehat Mantan PM Libanon

Foto: AP

Beirut, Sayangi.com – Bom mobil menghantam Beirut tengah pada Jumat (27/12) dan menewaskan seorang penasehat mantan Perdana Menteri (PM) Libanon Saad Hariri, selain membakar sejumlah warga, mobil dan gedung.

Gambar tayangan stasiun Future TV menunjukkan warga terbakar, yang lain tergeletak di lapangan, beberapa orang berdarah, serta beberapa mobil dan gedung terbakar, sementara ambulans dikerahkan ke tempat itu.

Ledakan itu, yang menimbulkan asap hitam di langit kota tersebut, terjadi dekat Serail, satu lokasi yang banyak terdapat gedung antara lain kantor perdana menteri, dan dekat dengan parlemen, bank, toko dan restoran.

Kantor berita Libanon (NNA) mengatakan, ledakan itu disebabkan satu bom mobil dan menewaskan Mohammad Chatah, seorang ahli ekonomi terkenal yang juga mantan menteri keuangan dan utusan Libanon untuk Washington.

Chatah menjadi penasehat mantan PM Fuad Siniora dan penggantinya, mantan PM Saad Hariri, yang ayahnya tewas dalam ledakan bom mobil di pinggir pantai Beirut Februari 2005, dan dituduhkan dilakukan Suriah.

Ia dibunuh ketika sedang menuju rumah Hariri di tengah kota Beirut untuk menghadiri satu pertemuan koalisi anti-Suriah 14 Maret yang mendukung perjuangan oposisi Suriah untuk menggulingkan pemerintah Damaskus.

Beirut dilanda beberapa serangan yang mematikan dalam beberapa bulan belakangan ini termasuk dua bom bunuh diri yang ditujukan pada kedubes Iran dan bom-bom di pangkalan-pangkalan gerakan Hizbullah di selatan ibu kota itu.

Satu jam sebelum ia tewas Chatah mengirim pesan-pesawat Twitter menyalahkan Hizbullah.

“Hizbullah mendesak keras diberikan kekuasaan yang sama dalam keamanan, dan masalah-masalah kebijakan luar negeri yang telah Suriah berlakukan di Libanon selama 15 tahun,” katanya.

Ia mengemukakan hal itu mengacu pada kekuasaan militer dan politik Suriah hampir 30 tahun yang berakhir setelah pembunuhan Rafiq Hariri tahun 2005.

Perang 33 bulan di Suriah telah menimbulkan perpecahan yang dalam di Lebanon dan menimbulkan ketegangan politik dan bentrokan sektarian di negara itu. (Ant)