Ini Cerita Marzuki Alie Soal SMS Kegalauan SBY

Foto: sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com – Ketua DPR Marzuki Alie buka-bukaan soal ‘kegalauan’ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut Marzuki, Ketua Umum Partai Demokrat tersebut banyak memberikan informasi mengenai kegelisahannya menghadapi fenomena politik dan hukum yang akhir-akhir ini berkembang. Hal ini diungkapkan Marzuki saat mengadakan silaturrahim jelang akhir tahun dengan kerabat, kader Demokrat, dan wartawan, di Jakarta, Selasa (31/12/2013) malam.

Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini mengakui jika kegaulauan sekaligus kegelisahan SBY tersebut dikirim melalui short message service (SMS) terhadap dirinya. Menurut Marzuki, di antara yang paling meresahkan SBY adalah tuduhan adanya barter penunjukan Wakil Presiden Boediono dengan skandal Bank Century.

Inilah cerita soal kegalauan SBY yang diceritakan kepada Marzuki, yang kini juga menjadi peserta Konvensi Partai Demokrat tersebut.

“Saya baru berkomunikasi dengan Pak SBY, ada di BB saya, dia SMS. Selama ini saya masih bisa tahan diri, tetapi begitu saya dipojokkan bahwa saya korupsi, dipojokkan bahwa saya barter Century dengan jabatan Wapres, katanya, di situlah saya harus menjelaskan kepada publik. Saya tidak mau menggunakan kekuasaan. Ini bukan dulu lagi. Sebagaimana katanya, para pemimpin dunia, negara-negara demokrasi, ya dilakukan ada dengan membela diri dengan hukum, tidak dengan kekuasaan. Saya punya tangan BIN, tapi saya tidak gunakan itu. Ini SMS dia kepada saya.

Saya selama ini paham saya kuat, tetapi saya terus tahan diri. Saya tidak mau gunakan kekuasaan itu. Tapi ketika saya disebut melakukan barter jabatan Wapres dengan Century, itu sudah tuduhan seolah-oleh saya korupsi. Itu bukan main-main, masyarakat kita akan menilai seolah-olah itu benar. Jadi saya harus membela diri. Siapa yang bela diri saya? Kalau ada orang lain yang mau membela, saya bersyukur. Masalahnya tidak ada yang membela saya. Saya akhirnya gunakan orang yang ngerti hukum, saya pakai kuasa hukum. Karena ini urusan pribadi, saya saya gunakan pengacara pribadi.”