Upah Turun, Jumlah Penduduk Miskin di Banten Tambah Banyak

Foto: istimewa

Serang, Sayangi.com – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten pada posisi September 2013 tercatat 682,71 ribu orang atau naik dibanding Maret 2013 sebanyak 656,24 ribu orang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Syech Suhaimi  mengatakan beberapa faktor penyebab meningkatgnya jumlah penduduk miskin karena selama periode Maret-September 2013 inflasi umum relatif tinggi.

Inflasi tercatat sebesar 5,76 persen akibat kenaikan harga bbm pada bulan Juni 2013, dan upah buruh konstruksi secara riil turun sebesar 3,15 persen dari Rp. 44.471,- menjadi Rp. 43.070,-.

Selama periode Maret-September 2013, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan bertambah 50,66 ribu orang (dari 363,80 ribu menjadi 414,46 ribu orang), sementara di daerah perdesaan berkurang 24,20 ribu orang (dari 292,45 ribu orang menjadi 268,25 ribu orang).

Suhaimi menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin itu, selain upah riil buruh pertanian meningkat dari Rp 22.340,- menjadi Rp 22.609,- pada September 2013, juga pertumbuhan sektor pertanian pada Triwulan I ke Triwulan III 2013 menunjukkan angka positif yaitu sebesar 2,11 persen.

Selama periode Maret-September 2013, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami peningkatan, sementara di daerah perdesaan mengalami penurunan.

“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan Maret 2013 sebesar 4,76 persen, meningkat 5,27 persen pada September 2013, sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan menurun dari 7,72 persen menjadi 7,22 persen,” katanya, di Banten, Jumat (3/1).

Ia mengatakan peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Pada September 2013, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan tercatat sebesar 70,93 persen, tidak berbeda jauh dengan kondisi Maret 2013 yang juga sebesar 70,87 persen, ujarnya.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, mie instan, kopi dan tempe. Pada komoditi bukan makanan ada perbedaan antara perkotaan dan perdesaan.

Lima komoditi bukan makanan utama di perkotaan adalah perumahan, listrik, pendidikan, bensin, dan angkutan. Sedangkan lima komoditi bukan makanan utama di perdesaan adalah perumahan, pendidikan, pakaian jadi anak-anak, pakaian jadi perempuan dewasa dan listrik, katanya.

Pada periode Maret-September 2013, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) maupun Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kenaikan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar.(ANT/GWH)

Berita Terkait

BAGIKAN