Agar Menang, Hambit Bintih Siapkan Uang Cash 3 M Untuk Akil

Foto: Sayangi.com/Dok

Jakarta, Sayangi.com – Bupati Gunung Mas Hambit Bintih dan pengusaha Cornelis Nalau Antun menyediakan uang Rp3 miliar untuk mantan ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar agar menolak permohonan gugatan pemilihan kepala daerah (pilkada) kabupaten Gunung Mas 2013-2018.

Jaksa Penuntut Umum KPK Elly Kusumastuti dalam sidang di pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu mengatakan pada 24 September 2013, Akil Mochtar menginformasikan kepada Chairun Nisa melalui SMS yang intinya meminta Rp3 miliar kepada Hambit Bintih.

Isi dari sms Akil kepada Chairun Nisa tersebut yakni, “besok sidang, itu pemohon sudah ketemu saya langsung si Bupatinya, saya minta lewat bu Anisa aja”, selanjutnya Akil Mochtar meminta kepada Chairun Nisa untuk disampaikan kepada terdakwa I Hambit Bintih agar disediakan dana sebesar Rp 3 miliar dalam bentuk dolar AS.

Hal tersebut termuat dalam surat dakwaan Bupati Gunung Mas Hambit Bintih dan Komisaris PT Berkala Maju Bersama Cornelis Nalau Antun yang disangkakan menyuap mantan Ketua MK Akil Mochtar.

“Untuk memenuhi permintaan Akil Mochtar, selanjutnya terdakwa I Hambit Bintih meminta kepada terdakwa II Cornelis Nalau Antun untuk menyiapkan dana tersebut dan menyerahkan uang tersebut kepada Akil Mochtar melalui Chairun Nisa. Cornelis Nalau menyanggupi untuk menyediakan dana tersebut pada Rabu, 2 Oktober 2013,” ungkap jaksa.

Uang Rp3 miliar tersebut ditujukan agar perkara permohonan gugatan pilkada kabupaten Gunung Mas yang diajukan oleh dua pasang calon bupati Gunung Mas yaitu Jaya Samaya Monong-Daldin dan Afridel Jinu-Ude Arnold Pisy ditolak oleh Akil bersama dua angota panel konstitusi yaitu Maria Farida dan Anwar Usman, sehingga Hambit Bintih dan Arton S Dohong tetap dinyatakan sebagai pemenang seperti dalam putusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Gunung Mas 2013-2018.

KPUD Gunung Mas memang menetapkan Hambit Bintih dan Arton S Dohong sebagai calon terpilih bupati dan wakil bupati Gunung Mas pada 11 September 2013, namun pasangan calon bupati lainnya yaitu Afridel Jinu-Ude Arnold Pisy dan Jaya S Monong-Daldin mengajukan gugatan ke MK.

Agar permohonan gugatan ditolak, pada 19 September, Hambit menemui Chairun Nisa di restoran Hotel Sahid Jakarta untuk melakukan pendekatan kepada pihak-pihak di MK, atas permintaan tersebut Chairun Nisa menghubungi Akil melalui pesan singkat (SMS).

“Pak Akil, saya minta bantu nih untuk Gunung Mas, tapi untuk incumbent yang menang, terhadap permintaan Chairun Nisa tersebut Akil pun menjawab ‘Kapan mau ketemu? Saya malah mau suruh ulang nih Gunung Mas,” ungkap jaksa.

Akhirnya pada 20 September, Hambit dan Akil bertemu di rumah dinas Akil di Kompleks Widya Chandra dan menyampaikan agar pengurusan keberatan perkara Gunung Mas berhubungan dengan Chairun Nisa.

Atas permintaan Hambit, Akil pun menetapkan panel hakim konstitusi yang mengadili perkara Gunung Mas terdiri atas dirinya sebagai ketua, Maria Farida dan Anwar Usman.

Pasca kesepakatan Chairun Nisa, Hambit Bintih dan Cornelis Nalau, pada Rabu pagi, 2 Oktober 2013 bertemu dengan Hambit Bintih di bandara Cilik Riwut Kalimantan Tengah untuk membicarakan penyerahan uang ke Akil. Selanjutnya Hambit menyerahkan uang Rp 75 juta ke Chairun Nisa terkait pengurusan gugatan tersebut.

Pada malam harinya, Chairun mengambil uang dari Cornelis di apartemen Mediterania Tanjung Duren Jakarta dan ditemani oleh Cornelis, Chairun pun pergi ke rumah Akil di Kompleks Widya Chandra.

“Saat terdakwa dan Cornelis menunggu Akil Mochtar menemui mereka di teras, datang petugas KPK dan melakukan penangkapan terhadap Cornelis, Chairun Nisa dan Akil Mochtar,” tambah jaksa.

Dari tangan Cornelis ditemukan empat amplop cokelat yang berisi sejumlah uang yaitu amplop pertama SGD 107,5 ribu dan Rp400 ribu, amplop kedua SGD 107,5 ribu dan Rp366 ribu, amplop ketiga USD 22 ribu serta amplop keempat berisi SGD 79 ribu yang nilainya sekitar Rp 3 miliar ditambah penemuan uang Rp75 juta yang dibungkus kertas koran pada Chairun Nisa.

Atas perbuatan tersebut, Hambit Bintih dan Cornelis Nalau Antun yang juga menjalani sidang pembacaan dakwaan, didakwa pasal 6 ayat 1 huruf a atau pasal 13 UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP mengenai orang yang memberikan sesuatu kepada hakim untuk mempengaruhi putusan perkara dengan ancaman penjara 3-15 tahun dan denda Rp150-750 juta.

Sedangkan Chairun Nisa didakwa dengan pasal 12 huruf c atau pasal 11 UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP mengenai orang yang menerima hadiah atau janji dengan ancaman penjara 4-20 tahun dan denda Rp200 juta hingga Rp1 miliar.

Hambit dan Cornelis sepakat tidak mengajukan nota keberatan (eksepsi). Usai sidang Hambit menolak menerangkan berapa uang yang sesungguhnya diminta Akil.

“Nanti saja di persidangan, tidak ada kesepakatan,” kata Hambit.

Menurut Hambit, penyerahan uang itu adalah hal yang dikondisikan oleh Akil Mochtar dan Chairun Nisa.

“Ini suatu kondisi, kan sudah dengar tadi antara Pak Akil SMS Ibu Chairunisa,” tambah Hambit singkat.(ANT/GWH)