Dennis Rodman Hibur Diktator Korut Kim Jong Un di Pyongyang

Foto: deutschewelle

Pyongyang, Sayangi.com – Mantan superstar basket AS, Dennis Rodman menggelar laga persahabatan di Pyongyang buat merayakan ulang tahun diktator Korea Utara, Kim Jong Un. Perjalanannya itu mengundang hujan kritik dari berbagai pihak, terutama aktivis HAM.
 
Dennis Rodman kembali bergoyang di atas lapangan, cuma saja bukan di United Arena ketika ia mengecap gelar demi gelar bersama Chicago Bulls pada dekade 1990-an, melainkan di sebuah lapangan indoor di Pyongyang. Pria berusia 51 tahun itu sedang merayakan ulang tahun seorang “sahabat karib,” yakni diktator muda Korea Utara, Kim Jong Un.

Di hadapan 14.000 penonton berbusana gelap, Rodman mendendangkan lagu selamat ulang tahun yang disaksikan langsung oleh Kim muda. Perjalanannya ke Pyongyang bersama selusin bekas pemain basket Amerika itu adalah untuk kesekian kalinya. Rodman mengklaim dirinya sedang menggulirkan “diplomasi bola basket”, untuk merapatkan hubungan antara dua bangsa. Ia dan bekas legenda bola basket lain melakoni laga persahabatan melawan tim nasional Korea Utara.

Kendati begitu, lawatannya ke Pyongyang mengundang berbagai kritik. Seorang anggota parlemen AS menyebut persahabatannya dengan Kim, “absurd dan mengerikan” dan mengingatkan, “Kebrutalan rezim di Pyongyang seperti mengundang Adolf Hitler buat makan siang,” kata legislator yang enggan disebutkan namanya itu.

Kelompok Hak Azasi Manusia tidak ketinggalan mencibir penampilannya di Pyongyang sebagai petualangan ego tanpa hasil. Sementara Shin Dong Hyuk, satu-satunya warga Korea Utara yang dilahirkan di kamp kerja paksa dan berhasil melarikan diri ke selatan, meminta Rodman membisiki Kim agar mau mendengar “jeritan rakyatnya”.

Rodman sendiri bereaksi keras atas kritik yang dilayangkan terhadapnya itu. Ketika menjawab pertanyaan seorang wartawan AS soal perjalanannya ke Korea Utara, Rodman menyanggah tajam, “Saya sama sekali tidak peduli apa yang Anda pikirkan!”

Rodman hingga kini adalah warga AS paling terkenal yang pernah bertemu langsung dengan Kim. Ia berhati-hati menjauhi urusan politik dari kegiatannya di Korea Utara. “Saya bukan negarawan,” katanya sambil mengingatkan, ia cuma ingin membangun jembatan kultural buat negara yang terisolir dari dunia internasional itu.

“Perjalanan ini adalah ujian kepercayaan. Kami melangkah ke wilayah abu-abu,” kata bekas pemain New York Knicks, Charles D. Smith yang sering tampil bijak di hadapan wartawan buat mengimbangi komentar miring Rodman. Ia sendiri merasa bersyukur penampilan tim basket AS mampu menghibur penonton di Pyongyang. Sementara Rodman, seperti bisa diduga, enggan mengomentari kebijakan Korea Utara. Tapi setidaknya, Kim selalu “bersikap ramah” kepadanya. (MSR/Deutschewelle)