Penderita TB-MDR Menolak Dirawat, Satu Meninggal Dunia

Foto: Ant

Pekanbaru, Sayangi.com – Salah seorang dari delapan orang yang positif menderita tuberculosis multi drug resistant (TB-MDR) di Provinsi Riau menolak untuk menjalani pengobatan di rumah sakit setempat akibat frustasi.

“Alasannya karena dia adalah seorang sopir yang harus menghidupi kebutuhan keluarga sehingga tidak ada waktu untuk berobat secara rutin. Namun menurut informasinya, dia itu frustasi karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh,” kata Risma, petugas medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis (9/1).

Menurut data rumah sakit, satu penderita TB-MDR tersebut merupakan warga Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, yang sebelumnya merupakan rujukan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat.

Untuk diketahui, kata dia, bahwa untuk mendapatkan kesembuhan yang optimal, penderita TB-MDR harus menjalani pengobatan secara rutin setiap harinya melalui bimbingan tenaga medis khusus.

Selain harus minum obat secara teratur setiap harinya, kata dia, pasien atau penderita tersebut juga harus mengontrol kondisi fisiknya secara rutin.

“Penyakit jenis ini bukan main-main. Salah pengobatan atau bahkan lambat dalam penanganannya bisa menyebabkan kematian bahkan dalam waktu yang singkat. Lebih parah dibandingkan dengan penyakit HIV atau AIDS,” katanya.

TB-MDR adalah jenis penyakit mematikan atau tuberculosis (TB) yang disebabkan oleh kuman mycrobacterium tuberclosis yang telah mengalami kekebalan terhadap obat anti tuberculosis (OAT).

Pasien yang terserang penyakit ini biasanya sulit disembuhkan karena kuman yang masuk dalam tubuh kebal terhadap obat-obatan.

Namun jika menjalani pengobatan secara teratur dan mengonsumsi obat secara terus menerus, menurut ahli medis, pasien itu bisa sembuh secara total.

“Tapi butuh waktu dan proses hingga berbulan-bulan. Sebaiknya juga penderitanya mengerti akan bahaya penyakit tersebut,” kata dia.

TB-MDR menurut catatan Dinas Kesehatan Riau dan hasil penelusuran telah merenggut lima nyawa.

Terakhir seorang warga Pekanbaru meninggal dunia akibat penyakit tersebut setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Arifin Achmad.

“Penderita TB-MDR yang meninggal kali ini adalah seorang wanita berusia 38 tahun,” kata Edi, petugas kamar mayat di Rumah Sakit Umum Dearah (RSUD) Arifin Achmad Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis.

Sebelumnya menurut informasi tenaga medis di RSUD tersebut, penderita penyakit mematikan itu sempat menjalani perawatan intensif di kamar terisolasi pada ruang Nuri.

“Ada sekitar enam bulan pasien tersebut dirawat sebelum akhirnya meninggal dunia pada 8 Januari 2014,” katanya.

Menurut informasinya, pasien tersebut adalah warga pendatang yang telah menetap cukup lama di Pekanbaru. (ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN