PPP: Larangan Siswi SMAN Berjilbab di Bali Langgar Konstitusi

Foto: ppp.or.id

Jakarta, Sayangi.com – Larangan menggunakan jilbab di Sekolah SMAN 2 Denpasar, Bali bukan tidak mungkin akan ditiru oleh sekolah-sekolah lainnya di berbagai daerah yang mayoritas penduduknya non-muslim. Selain tidak menghargai bahwa negeri ini adalah negara plural, pelarangan menggunakan jilbab sudah jelas melanggar HAM dan kontitusi negara.

“Pelarangan jilbab oleh instutusi pendidikan negeri adalah pelarangan secara sistematis, karena ini akan menjadi acuan siswa-siswa untuk tidak toleran terhadap kebhinekaan sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945,” kata politisi DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Faisal Ahmad, Kamis (9/1).

Faisal mengaku terusik dengan adanya kabar pelarangan menggunakan jilbab di institusi pendidikan di Pulau Dewata tersebut. Menurutnya, pelarangan menggunakan jilbab, sebagai simbol agama, juga mengusik rasa ke Indonesia yang pluralistik ini. Menurut Faisal, sejatinya umat lainnya sangat toleran terhadap pemakaian jilbab.

“Ke depan, saya sebagai orang Bali asli yang tumbuh dan besar di lingkungan yang menjungjung toleransi akan berjuang melindungi rasa toleransi antaragama yang sudah berkembang dan tumbuh subur,” pungkasnya.

Faisal yang juga Caleg Nomor urut 1 Dapil Bali ini mengingatkan kembali bahwa selama ini Bali menjadi tujuan dan tempat segala kegiatan yang terkait masalah anti diskriminasi, pusat perdamaian, dan tempat tumbuh kembangnya pluralisme. Dengan demikian, lanjut Faisal, jangan sampai Bali dicorengi oleh oknum-oknum yang tidak memiliki sifat dan rasa toleransi antar agama.

“Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud, Komnasham, KPAI dan lembaga yang peduli kepada anak anak bangsa dan negeri ini harus duduk bersama agar kasus klasik yang ada di Bali ini tidak menular kemana-mana,” tegasnya.

Faisal yang juga dosen UMJ ini mengajak semua elemen masyarakat bersama-sama menciptakan bangsa dan negara yang menjungjung tinggi kebhinekaan khususnya sesama semeton (sebutan saudara se Bali) Bali. Faisal mengaku tidak ingin Bali terkenal dengan sebutan pulau diskriminasi terhadap agama lain.

“Mari bersama-sama menciptakan Bali yang menciptakan rasa aman baik secara fisik maupun psikologis bagi warga Bali,” pinta Alumnus Ponpes Diponegoro Klungkung, Bali ini.(GWH)