Perselingkuhan dan Miras Penyebab Utama KDRT di Jayapura

Foto: sayangi.com/istimewa

Perselingkuhan dan Miras Penyebab Utama KDRT di Jayapura

Sentani, Sayangi.com – Penyebab utama dari kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jayapura rata-rata dikarenakan perselingkuhan dan minuman keras yang kerap menimbulkan permasalahan.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Jayapura Maria Bano mengatakan di Sentani, Jum’at (10/1/2014) untuk menghapuskan adanya kekerasan dalam rumah tangga akan sulit dilakukan karena pihaknya tidak memiliki kewenangan besar untuk melakukan hal tersebut.

“Namun untuk pengurangan kasus, pihaknya akan mengusahakan sebagaimana perbandingan tahun 2012 dan 2013,” katanya.

Menurut dia, dilihat pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan KB juga dengan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang peduli dengan perempuan dan anak di Jayapura, lalu ada juga mitra untuk menguatkan kapasitas bagi kelembagaan-kelembagaan adat di masyarakat, sampai tingkat kampung.

“Tahun 2013, kasus kekerasan terhadap perempuan menurun didasarkan pada data yang ada pada tahun 2012 yang lalu, terdapat 34 kasus yang dilaporkan, sedangkan pada akhir tahun 2013 hanya ada 19 kasus yang dilaporkan,” urainya.

Maria menjelaskan jumlah kasus yang menurun tersebut dikarenakan sosialisasi yang dilakukan oleh pihaknya dan LSM yang ikut mendukung pemberdayaan perempuan di Jayapura sangat aktif dan langsung kepada masyarakat.

“Kami memberikan penguatan-penguatan di masyarakat dan kelompok masyarakat adat sehingga kekerasan terhadap perempuan bisa menurun, dan selama 2013 kemarin kita mendatangi 19 distrik untuk menguatkan kapasitas perempuan, dan kita mulai lagi pada 2 Distrik kemudian selanjutnya 3 distrik di tahun 2014 yang akan menjadi sasaran kami,” ujarnya.

Ia melanjutkan dari data yang ada, menunjukan bahwa kekerasan terhadap perempuan bisa digolongkan bermacam-macam dengan jumlah bemacam-macam. Pada tahun 2013, kekerasan terhadap perempuan secara umum ada 1 laporan, kemudian penganiayaan dalam rumah tangga ada 2 laporan, penganiayaan dalam rumah tangga yang awali dengan perselingkuhan ada 4 laporan, kemudian perselingkuhan disertai dengan penelantaran keluarga ada 4 laporan, penelantaran keluarga ada 3 laporan, dan kekerasan terhadap anak ada 2 laporan.

“Kalau penganiayaan dan penelantaran keluarga tidak ada, perdagangan anak juga tidak ada, itu semua kadang kita selesaikan sendiri secara kekeluargaan, dan sebagian ada yang kita serahkan kepada pihak kepolisian karena itu merupakan tidak pidana,” pungkasnya.

Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.