Haris Rusly: 40 Tahun Malari dan Kepeloporan Gerakan Mahasiswa

Foto: Istimewa

Bagi saya yang lahir belakangan sebagai seorang aktivis mahasiswa tahun 1998, Hariman & Peristiwa Malari, 14 Januari 1974, adalah sebuah inspirasi politik gerakan bagi para pemuda dan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa tahun 1974 yang dipimpin oleh Hariman Siregar adalah sebuah kepeloporan gerakan mahasiswa melawan “arus balik” penjajahan asing, yang kini hadir dalam bentuk yang baru, neoliberalisme atau nekolim, yaitu penjajahan melalui sistem ekonomi pasar bebas, yang menyediakan karpet merah bagi perampokan kekayaan bangsa Indonesia.

Hariman dan peristiwa Malari 1974 dapat juga dilihat sebagai “early warning” atau sebuah “peringatan dini” terhadap ancaman penguasaan modal asing terhadap sebuah bangsa, yang dalam operasinya selalu menempatkan pemerintahan sebuah negara sebagai boneka yang diatur sesuai kehendaknya.

Kini, peringatan dini yang disampaikan oleh Hariman Siregar dan kawan-kawan 40 tahun lalu telah menjadi kenyataan yang dihadapi oleh bangsa kita, yang kini sedang menghadapi “arus balik” penjajahan asing yang telah diusir tahun 1945.

Dominasi politik melalui demokrasi liberal, di mana arah negara serta penentuan pemimpin negara ditentukan melalui opini yang dikendalikan oleh segilintir pemodal (asing dan nasional) yang punya media atau membeli media. Rakyat hanya menjadi objek yang mengkonsumsi opini yang membentuk kesadaran palsu oleh segelintir elite pemodal asing dan nasional.

Kini, arah negara dan penentuan pemimpin negara dan pemimpin daerah tak lagi ditentukan oleh partisipasi, kerjasama, musyawarah dan mufakat yang melibatkan seluruh rakyat dari berbagai elemen & komponen yang beragam, baik suku, agama maupun golongan.

Kini, eksploitasi ekonomi dan perampokan kekayaan alam serta penghancuran karakter bangsa Indonesia oleh kekuatan asing yang bersekutu dengan elite politik nasional dan lokal adalah kenyataan pedih dan menyakitkan yang sedang kita hadapi.

Perbedaan antara peristiwa Malari 1974 dengan keadaan saat ini adalah bila pada peristiwa Malari 1974 arus balik penjajahan asing mendapatkan perlawanan dari gerakan mahasiswa. Sementara keadaan saat ini, arus balik penjajahan asing yang disertai badai politik yang datang bertubi-tubi, memporak-porandakan sendi kehidupan bangsa dan negara, namun nyaris tak ada gerakan mahasiwa yang menentangnya.

Karena itu, kita berharap semoga peringatan 40 tahun Malari dapat menginspirasi lahir kembalinya gerakan mahasiswa dan pemuda yang teguh menentang arus balik penajajahan asing.

Semoga masih tersisa para pemuda dan mahasiswa di berbagai pelosokĀ  yang memperjuangkan kedaulatan politik untuk mengakhiri dominasi politik penjajahan asing, memperjuangkan tegaknya kemandirian ekonomi negara untuk mengubur eksploitasi di bidang ekonomi oleh penjajah asing, serta turut membangun kepribadian bangsa untuk membendung penetrasi budaya asing.

Haris Rusly, adalah Aktivis Mahasiswa 1998, Yogyakarta