Ekonom Inggris: Indonesia Bisa Jadi Raksasa Ekonomi Baru

Foto: panoramio.com

Jakarta, Sayangi.com – Ekonom asal Inggris Jim O’Neill yang juga mantan eksekutif Goldman Sach menyatakan bahwa Meksiko, Indonesia, Nigeria dan Turki (MINT) merupakan negara berkembang yang berpotensi menjadi raksasa baru ekonomi dunia dalam 30-40 tahun ke depan.

Menurut O’Neill, seperti terbaca di laman Kementerian Keuangan, ada beberapa faktor mendasar yang menjadi andalan MINT, misalnya populasi muda yang banyak untuk menjadi angkatan kerja yang produktif. Selain itu, MINT juga memliki posisi yang strategis dan sumber daya alam yang melimpah dan belum diolah secara optimal.

O’Neill menyatakan, Indonesia pantas masuk dalam kelompok MINT karena memiliki keunggulan demografi dan geografi. Indonesia juga disebut berpotensi menikmati pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang signifikan.

O’Neill sendiri merupakan pencetus istilah BRIC (Brazil, Rusia, India, dan Cina). Empat negara BRIC, menurut O’Neill pada saat itu diyakini berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru sekaligus memberi pengaruh bagi perekonomian dunia. Banyak ekonom setuju dengan O’Neill karena BRIC kini menjadi kekuatan lobi berpengaruh dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan Cina sendiri telah menjelma menjadi raksasa ekonomi terbesar kedua yang juga diprediksi mampu melampaui AS dalam beberapa tahun ke depan.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) II Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan bahwa Indonesia masih harus bekerja keras untuk menjadi negara maju. “Infrastruktur kita masih ketinggalan, kualitas sumber daya manusia masih diperbaiki, anggaran harus dirapikan dan perlu transformasi struktural,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) M. Chatib Basri, seperti dikutip media daring mengatakan bahwa belum lama ini telah diwawancarai O’Neil terkait hal tersebut. “Dia mengakui Indonesia tengah dalam kondisi yang bagus. Berarti MINT itu kan bisa menjadi sangat potensial. Dia bahkan tidak khawatir dengan dampak tapering off, dia bilang ini jangka pendek,” jelas Menkeu. (MSR)