Politik Uang Besar-besaran Selimuti Munas Hipmi

Bandung, Sayangi.com – Praktik permainan politik uang (money politics) disebut terjadi secara besar-besaran di Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ke-XV. Dalam acara yang digelar di The Trans Luxury Hotel, Bandung tersebut, praktik politik uang tersebut tersebar dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan informasi yang kami himpun, money politics itu tersebar dengan jumlah yang bervariasi, mulai dari US$10.000 hingga US$50.000 Jumlah uang tersebut, terutama disebar ke peserta yang memiliki hak suara (voters).

Diketahui, jumlah peserta penuh (pemilik hak suara) dalam Munas Hipmi ini berjumlah 165 orang yang berasal dari 33 BPD Hipmi se-Indonesia. Mereka akan menjadi penentu, apakah Hipmi tiga tahun ke depan dipimpin oleh Bayu Priawan, Bahlil Lahadalia, maupun Andhika Anindyaguna.

“Amunisi Bayu sudah standby 100 M,” kata Rahman, salah satu peserta kepada Sayangi.com, Selasa (12/1/2015).

Menurutnya, uang tersebut hanya dikhususkan untuk peserta yang memiliki hak suara saja.

“Angka tawar menawar per-voter (1 org peserta penuh) sudah menyentuh angka US $30.000,” ujarnya. “Bahkan, bisa lebih dari itu.”

Ketika kami coba konfirmasi kepada salah satu tim sukses Bayu, Tito, persoalan adanya praktik itu dibantahnya. Menurutnya, selama ini yang beredar di lokasi Munas hanya dari isu ke isu.

“Ya kan kalau money politics itu susah juga, orang enggak pernah lihat, mungkin asumsi-asumsi. Kalau di ART Hipmi itu enggak ada,” ujarnya.

Informasi yang kami terima juga menyebutkan bahwa tradisi ini bukan hanya terjadi dalam Munas Hipmi kali ini, namun juga sebelum-sebelumnya. Jumlahnya pun bisa mencapai US$50.000. Namun demikian, kandidat lainnya juga tidak menampik adanya praktik tersebut.

“Kami siap melayani,” ujar tim sukses kandidat lainnya, yang enggan namanya disebutkan, mencoba menanggapi permainan politik uang dalam Munas Hipmi ini.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa penentu dalam Munas Hipmi ini adalah uang.

 

“Ujung-ujungnya nanti uang dan lobi penentunya,” kata Setiawan, tim sukses salah satu kandidat.

 

Kendati demikian, hingga berita ini diturunkan, dari pihak tim sukses inti, belum ada yang mengamini adanya praktik money politics hingga sebesar US$50.000 dolar per pemilih tersebut.