Cerita Fadhullah, Paslon Jalur Independen Yang Menang di Pilkada Pidie 2017

Fadhullah TM Daud (kanan) bersama pemimpin umum Sayangi.Com Bursah Zarnubi, di Tebet, Senin (20/3) malam/Foto: Sayangi.Com/Tri Setyo

Jakarta, Sayangi.Com– Dari 101 daerah yang mengikuti Pilkada serentak tahun 2017, tercatat hanya satu daerah yang dimenangkan oleh pasangan calon dari jalur independen, yakni Kabupaten Pidie di Provinsi Aceh. Pasangan calon dari jalur independen tersebut adalah Roni Ahmad (Abusyik) dan Fadhullah TM Daud.

Hebatnya, yang dikalahkan oleh pasangan Roni Ahmad dan Fadhullah adalah petahana yang pada Pilkada 2017 memborong dukungan seluruh Parpol yang ada di Kabupaten Pidie.

Pasangan ini berhasil memperoleh 96.184 suara atau 48,19 persen. Mereka unggul 2,34 persen dari pasangan petahana Sarjani Abdullah dan M. Iriawan yang mengantongi 91.511 suara atau 45,85 persen. Satu pasangan calon lainnya, Tarmiyus-Khalidin Daud yang juga menggunakan jalur independen, hanya meraih 11.885 suara atau 5,96 persen.

Pasangan Sarjani Abdullah dan M. Iriawan saat ini mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tapi, dengan selisih suara di atas 2 persen, MK besar kemungkinan akan menolak gugatan Sarjani Abdullah dan M. Iriawan sesuai dengan Peraturan MK No.1 Tahun 2015 yang mengatur pedoman acara perselisihan gugatan hasil pilkada.

Janji Tidak Bohongi Rakyat

Apa yang membuat pasangan Roni Ahmad-Fadhullah bisa memenangkan Pilkada Pidie 2017, padahal petahana yang menjadi lawan kuatnya sudah memborong dukungan semua parpol?

Saat masa kampanye lalu, posko pemenangan Rono Ahmad-Fadhullah juga mendapat teror dalam bentuk penembakan oleh orang tak dikenal yang saat ini masih diusut oleh pihak kepolisian Pidie.

“Kami bersyukur karena sebagai pasangan independen yang punya dana terbatas, ternyata bisa menang dalam Pilkada Pidie 2017,” kata calon wakil bupati, Fadhullah TM Daud, saat berkunjung ke kantor Sayangi.com, Jakarta, Senin (20/3) malam.

Fadhullah mengungkapkan, kemenangannya pada Pilkada Pidie tidak terlepas dari sikap mayoritas masyarakat Pidie yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Bupati saat ini.

“Masyarakat Pidie mungkin sudah kesal dengan Bupati yang janji-janjinya banyak tidak terealisasi. Antara lain janji memberi subsidi kepada setiap KK (kepala keluarga) sebesar satu juta rupiah tiap bulan,” paparnya.

Mengacu kepada kekecewaan masyarakat Pidie terhadap petahana, pasangan Roni Ahmad-Fadhullah pada kampanye lalu mengangkat slogan dengan menggunakan bahasa lokal: “Darah nyang Beutoi Haram Meu Sulet“. Dalam bahasa Indonesia arti slogan itu kira-kira adalah haram hukumnya untuk membohongi rakyat.

Masyarakat Pidie, kata Fadhullah, menaruh kepercayaan besar kepada Roni Ahmad, mantan panglima GAM wilayah Pidie yang kini berprofesi sebagai petani, hidup sederhana, dan di masyarakat akrab dipanggil dengan sebutan Abusyik atau Kakek.

“Biaya kampanye kami sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat Pidie. Kami sendiri gak punya uang,” kata Fadhullah, yang dikenal sebagai aktivis muda dan berprofesi sebagai tenaga ahli di DPR RI.

Menurut Fadhullah, ia bersama Abusyik juga berjanji akan memperbaiki kualitas hidup masyarakat Pidie, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pertanian yang merupakan potensi terbesar perekonomian Kabupaten Pidie.

Soal gugatan petahana yang saat ini masuk tahap sidang pendahuluan di MK, Fadhullah yakin bahwa MK akan menolak gugatan tersebut karena margin kemenangannya di atas 2 persen.

Dari segi substansi, kata Fadhullah, gugatan petahana juga tidak didukung oleh bukti yang kuat.

“Mereka menggugat ada penggelembungan suara di 34 TPS. Tapi pihak Panwas sudah menyatakan bahwa tidak terjadi penggelembungan suara di 34 TPS tersebut. Petahana juga menuduh ada kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif atau TSM. Ini aneh, yang paling mungkin melakukan kecurangan secara TSM itu kan petahana,” kata Fadhullah.