Salman Abedi Tersangka Bom Manchester, Inggris Tingkatkan Status “Kritis”

Salman Ramadan Abedi, remaja berusia 22 tahun yang menjadi tersangka pelaku bom Manchester (Foto: The Guardian)

Manchester, Sayangi.com – Kepolisian Manchester Inggris menetapkan pemuda 22 tahun bernama Salman Ramadan Abedi sebagai tersangka pelaku bom di konser Ariana Grande di Manchester Arena, Senin (22/5) malam atau Selasa pagi WIB.

“Saya dapat mengonfirmasikan bahwa pria yang menjadi tersangka dalam kekacauan tersebut adalah pemuda 22 tahun bernama Salman Abedi. Namun pemuda tersebut belum diidentifikasi secara resmi, dan saya tidak ingin berkomentar lebih lanjut,” kata Kepala Kepolisian Manchester, Ian Hopkins kepada The Guardian, Rabu (24/5).

Pemerintah Inggris juga telah meningkatkan status keamanan menjadi ‘kritis’ dari sebelumnya ‘berbahaya’, menyusul ditetapkannya Salman Abedi sebagai tersangka bom Manchester. “Sekarang disimpulkan berdasarkan investigasi hari ini, bahwa keamanan harus ditingkatkan untuk saat ini dari berbahaya menjadi kritis,” kata Perdana Menteri Inggris, Theresa May, Rabu (24/3), seperti diberitakan Reuters.

Pihak kepolisian Inggris sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait aksi bom bunuh diri yang dilakukan Abedi. “Prioritasnya tetap untuk menentukan apakah ia bergerak sendiri atau jadi bagian dalam jaringan,” imbuh Hopkins.

Menurut media The Telegraph, Abedi lahir di Manchester dari orang tua yang berasal dari Libya. Abedia lahir pada tahun 1994, dan merupakan anak bungsu kedua dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya melarikan diri dari rezim mantan diktator Moamer Khadafi. Abedi diketahui sekolah di Universitas Salford pada tahun 2014 jurusan Fakultas Manajemen Bisnis sebelum akhirnya putus sekolah.

Ibunya, Samia Tabbal, 50, dan ayahnya, Abu Ismael, keduanya lahir di Tripoli namun tampaknya telah berimigrasi ke London sebelum pindah ke daerah Whalley Range di selatan Manchester. Keluarga tersebut telah tinggal di daerah Fallowfield, selatan Manchester, selama lebih dari sepuluh tahun. Kepolisian pada Selasa (23/5) telah melakukan penggerebekan di alamat terduga. Abu Ismael saat ini diduga berada di Tripoli, Libya.

Downing Street melaporkan bahwa Badan Intelijen Inggris tengah menyisir hubungan Abedi dengan Al-Qaeda dan Libya. Pasalnya, Abedi dilaporkan baru saja kembali dari negara asal orangtuanya itu. Abedi telah menjadi radikal setelah sebelumnya dituduh terlibat dalam pengumpulan dana untuk para pelaku jihad.

Abedi tumbuh di daerah yang terkenal sebagai basis dari Kelompok Pertarungan Islam Libya (LIFG). Di antara mereka adalah Abd al-Baset Azzouz asal Mancehster, seorang ayah dari empat anak yang meninggalkan Inggris untuk menjalankan jaringan teroris di Libya yang diawasi oleh Ayman al-Zawahiri, penerus Osama bin Laden sebagai pemimpin al-Qaeda.

Menurut Mohammed Saeed El-Saeiti, imam masjid Dishbury, dimana Abedi kerap menjalankan ibadah sholat, Abedi kerap memperlihatkan tatapan kebencian jika mendengar ceramah menentang ISIS. “Salman menunjukkan wajah kebencian setelah pidato saya terkait ISIS. Dan itu bukan kejutan bagiku,” ungkapnya.

Alan Kinsey, teman Abedi mengungkapkan, sebuah bendera Irak atau Libya dengan ukuran besar tergantung di rumah mereka. “Ada sebuah bendera besar Irak yang tergantung di luar jendela tapi kami tidak pernah memikirkannya. Kami pikir ini tentang sepak bola atau demonstrasi di rumah atau sejenisnya,” papar Kinsey.

Namun pandangan berbeda disampaikan salah satu anggota komunitas Libya di Mancehster. Abedi dikenal sebagai sosok yang pendiam, dan taat kepada orangtua. Abedi juga kerap melantunkan adzan disetiap waktu sholat di masjid dekat rumahnya.

“Abu Ismail akan sangat putus asa. Dia selalu sangat konfrontatif dengan ideologi jihad, dan hal ISIS ini bahkan bukan jihad, itu kriminalitas. Keluarganya akan hancur,” ungkapnya.