Cerita Mereka Yang Puasa Ramadhan Selama 17 Hingga 23 Jam

Foto selfie Denn Shariff dengan latar belakang kapal pesiar, tempatnya bekerja, di Ulvik/Eidfjord Norwegia

Jakarta, Sayangi.Com– Seberapa besar tantangan Anda berpuasa?

Bagi muslim yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, lama puasa Ramadhan umumnya sekitar 13 jam 15 menit, dimulai saat waktu salat Subuh sekitar pukul 04.35 WIB hingga waktu salat Magrib sekitar pukul 17.50 WIB. Cuacanya juga sejuk, karena selama bulan puasa tahun ini, hujan masih sering mengguyur pada siang atau sore hari.

Tantangan yang dihadapi umat Islam di Indonesia ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan di belahan Bumi Utara, yang durasi puasanya lebih panjang dan menghadapi cuaca yang cenderung ekstrem.

Disadur dari laman BBCIndonesia, berikut ini adalah cerita beberapa warga muslim yang menjalankan ibadah puasa di sejumlah negara dengan durasi 17 jam, bahkan ada yang 23 jam.

Widya Airlangga, WNI yang tinggal di Helsinki, Finlandia misalnya berpuasa selama 20 hingga 21 jam. Namun ada lagi yang lebih lama, yaitu di daerah Laplandia (bagian utara Finlandia). Di sana umat Muslim puasa lebih dari 23 jam, karena matahari hanya terbenam selama 55 menit saja.

Widya Airlangga yang berpuasa hingga 21 jam di Helsinki

Deen Shariff: Buka Sekaligus Sahur

Saya bekerja di kapal pesiar dengan rute pelayaran negara Skandinavia dan beberapa wilayah dalam lingkar kutub utara. Pengalaman Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman terbaik sepanjang masa dalam hidup saya.

Saya berpuasa di berbagai wilayah negara negara Skandinavia dan negara-negara pulau dalam lingkar kutub utara sperti Ulvik/Eidfjord, Isofjodur, Longyearbyen, Tromso, Leknes, Akureyri, Hammerfest, Nordkap, dan Honningsvag yang memang pada musim panas ini mataharinya nyaris tak pernah tenggelam.

Saya ingat di hari pertama Ramadhan, kapal kami berada di wilayah Isofjodur. Kami sahur jam satu pagi dan berbuka jam 23:54 malam, nyaris hampir 22-23 jam berpuasa. Ketika kami berbuka, kami juga sekaligus sahur dan ini pun mataharinya serta suasananya memang benar-benar terang sepanjang hari sepanjang malam. Tidak ada gelap sama sekali.

Suasananya walau musim panas tetap dingin yang amat sangat. Jangankan untuk ukuran orang Indonesia, untuk ukuran orang Eropa pun mereka tetap kedinginan.

Suasana pegunungan salju abadi di Longyearbyen, Norwegia.

Faisal Maulana Bahari: Puasa Sambil Berlayar

Pekerjaan saya marine engineering atau lebih dikenal dengan engineer permesinan kapal alias pelaut. Saya bekerja di sebuah perusahaan pelayaran asal Jerman pada kapal berbendera Portugal.

Di sini saya akan berbagi cerita berpuasa di laut. Yaitu perjalanan dari New Orleans, AS ke Casablanca, Maroko. Yang sedikit membedakan adalah waktu yang tidak menentu dikarenakan perbedaan zona waktu pada saat melintasi Laut Karibia dan Samudra Atlantik.

Terkadang saya berpuasa 16 jam, terkadang 17 jam dan terkadang 15 jam, dengan temperatur area kerja di ruangan mesin kapal berkisar 45-47 derajat celcius dan kondisi cuaca laut yang berombak 3-4 meter dan mayoritas kru asing (Bulgaria, Polandia, Kroasia, Rusia, dan Filipina)

Vina Noviyanti: Ujian Puasa di New York

Saya di New York, Amerika Serikat hampir 17 jam berpuasa. Waktu buka puasa jam 20.29 malam dan subuh jam 03.45.

Alhamdulillah kalau sudah niat dilancarkan, padahal harusnya sudah masuk musim panas, tapi Alhamdulillah lagi, cuacanya tidak panas.

Setiap hari jemput anak sekolah yang selalu minta main ke taman jam 12 siang. Sekitar satu jam kalau main dan itu ujian banget kalau lagi panas-panasnya. Karena saya juga sambil main sama balita yang usianya 1,5 tahun yang tidak berhenti-henti lari.

Central Park di New York

Atika Iskandar: Puasa 19 jam di Inggris

Saya pernah puasa 19 jam selama di Inggris saat musim panas. Waktu Iftar itu sangat ditunggu-tunggu. Laparnya sih sudah hilang tapi haus sekali.

Sahur biasanya jam dua hingga setengah tiga pagi. Sementara berbuka di atas jam 21.30 malam. Waktu itu saya masih proses menyusui juga, tapi bisa dilalui walau hitungannya berbuka dan sahur suka jadi satu.

Paling sahur minum susu dan banyak air putih karena masih terasa kenyang karena kalap makan sewaktu Iftar. Hehehe…

Namun dengan niat beribadah, karena Allah, semua dapat berjalan dengan lancar.

Dede Ramdani: Merasakan Toleransi di Jepang

Saya mempunyai pengalaman berpuasa di Jepang sudah dua kali dan sekarang adalah puasa ketiga di sini. Puasa di Jepang juga cukup lama sekitar 17 jam.

Dimulai sahur pukul 02.00 pagi dan maghrib pukul 19.00 malam. Tapi Alhamdulillah, kuat berpuasa meskipun banyak kegiatan setiap harinya.

Orang Jepang rata-rata sudah mengetahui kapan puasa dan sangat menghargai dan mentoleransi kita yang umat Muslim. Saya sangat menyukai Jepang dan orang-orangnya, apalagi tempat-tempatnya begitu indah.

Foto di bawah ini adalah suasana kami saat berbuka dengan orang Jepang, meskipun mereka tidak berpuasa tapi mereka menunggu maghrib bersama kami, indahnya bertoleransi antara agama. Kami juga memperkenalkan masakan-masakan Indonesia kepada mereka dan mereka sangat menyukainya terutama nasi goreng sudah sangat terkenal di Jepang.

Foto suasana saat Dede Ramdani berbuka puasa dengan orang Jepang

Oktavianti Nur Sulaeman: Puasa 18 Jam di Belanda

Jika Anda benar-benar menjalaninya (puasa) tidak semudah yang diucapkan. Saya tinggal di Belanda, puasa sekitar 18 jam dan itu sulit apalagi dikombinasikan dengan pekerjaan saya di malam hari.

Saya sudah mencoba tapi keesokkan harinya kondisi tubuh memburuk, jadwal sahur yang dekat dengan jadwal Iftar bikin perut tidak bisa diisi sedangkan rutinitas pekerjaan, kegiatan rumah masih terus berlanjut keesokan harinya dan kondisi tubuh yang tidak fit. Jadi puasa 18 atau 21 jam, selama satu bulan penuh, tidak semudah yang diucapkan.