Kapolri: Angkat Putra Papua Jadi Ajudan, Presiden Tunjukkan Sikap Nasionalisme

Kombes Jhonny Edison Isir (kiri) bersama Kapolri M. Tito Karnavian dan ajudan Kapolri Stefanus (kanan) yang juga berasal dari Papua /Foto: istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Nama Kombes Pol. Jhonny Edison Isir akhir-akhir ini menjadi perbincangan di masyarakat. Pasalnya, Jhonny menjadi ajudan Presiden yang pertama kali asal tanah Papua.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, ketertarikan Presiden Jokowi untuk menjadikan putra Papua sebagai ajudannya bermula saat acara syukuran Hari Bhayangkara Juli lalu. Saat itu, kata Tito, Jokowi melihat ajudan Kapolri bernama Stefanus yang juga berasal dari Papua.

“Pak Presiden mungkin melihat ajudan saya Stefanus, orang Papua. Kemudian, beliau menanyakan kepada saya, ajudan Pak Kapolri orang Papua? Ya betul Pak. Bagus nggak? Bagus Pak, sudah lima tahun bersama saya’,” ujar Tito di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (16/8).

Menurut Tito, saat itu Presiden Jokowi menyampaikan kepadanya bahwa ia juga ingin memiliki ajudan yang berasal dari Papua. Apalagi, saat itu pos ajudan Presiden yang berasal dari Polri  sedang kosong.

“Ada namanya Jhonny Edison Isir, anaknya pintar, pengalaman di Jawa Timur, di Papua pernah jadi Kapolres di Gunung Wamena, Manokwari. Dua tempat ini sangat dinamis keamanannya, tapi bisa dikelola dengan baik,” kata Tito.

Setelah itu, Tito memberikan data tentang Jhonny ke Presiden Jokowi. Saat dipertemukan langsung, Presiden langsung menyetujui Jhonny untuk bertugas sebagai ajudan.

Kapolri menjelaskan, Jhonny sudah mulai menjabat sebagai ajudan Presiden sejak kemarin, dan hari ini sudah ikut Jokowi ke DPR, berdiri di belakang Presiden saat menyampaikan  pidato kenegaraan.

Menurut Tito, dengan memilih Jhonny sebagai ajudan, secara tidak langsung Presiden Jokowi sudah menunjukkan rasa cintanya kepada Papua. Selain itu, katanya, Presiden Jokowi juga telah menunjukkan sikap nasionalismenya dengan menjadikan putra Papua sebagai ajudannya.

“Tiga orang ajudan beliau kan Muslim ya, ini ada non Muslimnya (Jhonny). Sehingga pendapat saya, beliau tidak melihat latar belakang itu, tapi nasionalisme beliau. Menunjukkan bahwa semua sama di mata beliau, rakyat indonesia dari Sabang sampai Merauke, agama apapun adalah rakyat beliau,” jelas Tito.