Ciutan Trump Tentang Pershing Dan Darah Babi Dikecam

Donald Trump, Foto Daily Kos
Donald Trump, Foto Daily Kos

Washington DC,Sayangi.com– Presiden Amerika Donald Trump kembali jadi sorotan internasional baru-baru ini. Selain wacananya soal Korut membuat situasi memanas.

Melalui ciutannya Trump mengunggah mengingatkan kembali cerita  bagaimana Jendral Pershing mengatasi aksi terorisme Muslim Philipina dengan peluru yang sudah dicelupkan dalam darah babi.

Trump memposting soal ini setelah mendengar adanya ancaman teror di Barcelona yang terjadi dua hari lalu. Seperti diberitakan berbagai media, sebuah van menabrak kerumunan di jantung kota Barcelona menyebabkan setidaknya 13 orang tewas. Insiden itu oleh kepolisoan setempat dikategorikan sebagai serangan teroris.

Tak lama kemudian, Trump menuliskan tentang Jenderal Perching, orang Amerika yang membunuh puluhan anggota kelompok milisi muslim dengan peluru yang dicelupkan darah babi di Filipina.

Ciutan Trump tertulis “Pelajari apa yang dilakukan oleh Jenderal Pershing dari Amerika Serikat kepada para teroris yang ditangkap. (Karena hal itu) Tidak ada kelompok teror Islam radikal selama 35 tahun!” tulis @realDonaldTrump, pada Jumat 17 Agustus 2017, pukul 23.45 waktu setempat.

Walau presiden Trump tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, namun, sebagian besar pengguna Twitter dan media menilai, tweet ‘Pershing’ itu seolah ditujukan oleh @realDonald Trump sebagai kiat atau mungkin sebagai retorika untuk mengatasi merebaknya serangan terorisme.

Empat puluh lima menit sebelum ia tweet tulisan diataa, presiden Trump sempat mengunggah tweet yang mengecam teror Barcelona.

Dikutip Washington Post, menurut laman elektronik pencari fakta Snopes.com, cerita tentang Pershing dan darah babi merupakan kisah palsu karena tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Sementara itu, laman pencari fakta lain, Politifact, turut menyebut hal yang sama dengan Snopes.com.

Sementara itu Brian M Linn, profesor sejarah dari Texas A&M University, menyebut bahwa kisah yang dituturkan dan dirujuk oleh Trump merupakan ‘cerita yang dibuat-buat’.

Menurut Linnm Tak hanya ‘palsu’ retorika yang ditawarkan oleh kisah itu, baik diinterpretasi secara harfiah atau sebatas kiasan, tidak dapat dijadikan justifikasi sebagai landasan kebijakan suatu pemerintah untuk menangani isu terorisme.

“Militer Amerika Serikat telah lama mempelajari bahwa kontra-terorisme membutuhkan usaha yang sangat besar, dan sangat sulit untuk menurunkan tensinya,” jelas Linn.