HUT KAHMI Ke-51, Mahfud MD Jelaskan Harmoni Islam dan Negara

Mahfud MD saat memberikan ceramah dalam acara HUT Ke-51 KAHMI di Balai Sidang Jakarta Convention Center, Selasa (19/9) malam.

Jakarta, Sayangi.com – Berdirinya organisasi HMI dan Korp Alumni HMI (KAHMI) pada dasarnya dimaksudkan sebagai wadah perjuangan umat Islam untuk berkhidmat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, peran dan tugas utama KAHMI adalah membangun harmoni antara Keislaman dan Keindonesiaan.

Demikan disampaikan Ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mahdud MD dalam acara Resepsi HUT Ke-51 KAHMI di Balai Sidang Jakarta Convention Center, Selasa (19/9) malam.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kata Mahfud, HMI berdiri didedikasikan untuk mempertahankan kemerdekaan negara, dan juga mempersiapkan kader bangsa yang bisa mengisi NKRI dengan bernafaskan keislaman.

“Karena itu KAHMI tidak boleh mempertentangkan keislaman dan keindonesiaan, sebab sejak awal KAHMI bercita-cita menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi Indonesia sebagai bagian dari alam semesta,” kata Mahfud MD.

Menurut Mahfud, pada saat kemerdekaan, tokoh-tokoh Islam ikut merumuskan kesenyawaan antara Islam dan Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Kontribusi para tokoh itulah yang menyematkan landasan akademis dan teologis dalam perumusan Pancasila.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menegaskan bahwa dalam hal hubungan antara Islam dan negara, KAHMI sudah sampai pada keyakinan bahwa: pertama, perbedaan adalah fitrah yang diciptakan oleh Allah, sehingga kita harus bisa menerima perbedaan untuk kemajuan bersama dalam satu negara yang bernama Indonesia. Kita juga tidak boleh memaksa orang lain untuk sama.

Kedua, Indonesia merupakan negara darul ‘ahdi atau negara kesepakatan berdasar dari hasil musyawarah berbagai golongan, darus salam atau negara perdamaian, bukan darul Islam atau negara Islam. Indonesia merupakan negara kebangsaan yang berketuhanan, maka seluruh warga Indonesia -termasuk KAHMI dan HMI- wajib hukumnya mentaati kesepakatan kebangsaan tersebut.

“Kesepakatan bersama dalam mendirikan negara ini biasa disebut oleh Nurcholis Madjid dengan istilah mitsaqan ghaliidza, yakni janji suci antara semua anak bangsa, yang dalam studi ilmu politik dan ketatanegaraan disebut modus vivendi atau kesepakatan taat hukum,” kata Mahfud.

Lebih lanjut Mahfud kemudian memberikan penjelasan teologis tentang figh politik mengapa umat Islam bisa menerima Indonesia sebagai sebuah kesepakatan bersama. Mengutip pendapat Nurcholish Madjid, Mahfud menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga hal yang melandasi hal tersebut, yaitu:

1. Manusia pada dasarnya adalah bersumber dari kesatuan ajaran ketuhanan (ummatan wahidatan), tapi kemudian memilih jalan dan keyakinan sendiri-sendiri dan dan membuat pelembagaan keyakinan agama sendiri-sendiri sehingga memunculkan perbedaan.

2. Akibat munculnya perbedaan, maka perlu pedoman hidup bersama yaitu mencari kalimatun sawa atau visi yang sama, yaitu mempertemukan kesamaan dari perbedaan. Dalam konteks ini, Mahfud mencontohkan kalimatun sawa pada soal keadilan, agama apapun setuju akan keadilan. Demikian juga dengan pemerintahan jujur, kedaulatan negara, dan menjaga lingkungan hidup.

3. Kita berpedoman kepada alhanifiyatus samhah yaitu semangat kebenaran yang lurus dan konsisten namun tetap toleran terhadap perbedaan.

Dalam acara yang dihadiri ribuan orang itu, turut hadir sejumlah tokoh antara lain Akbar Tandjung, Mendikti Muhadjir Effendi, Ferry Mursidan Baldan, Viva Yoga Mauladi, dan Reni Marlinawati.