Pengacara 11 Tersangka Bentrok Kemendagri Ajukan Penangguhan Penahanan ke Polisi

Pengacara 11 Tersangka Bentrok di Kemendagri Suhardi Somoeljono beserta Ketua Barisan Merah Putih, Wati Martha Kogoya di Mapolda Metro Jaya, Senin (16/10). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Kuasa hukum 11 tersangka pendemo di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengajukan penangguhan penahanan ke Polda Metro Jaya. Suhardi Somoeljono selaku pengacara pendemo mengatakan, pengajuan penangguhan penahanan disertai beberapa alasan.

“(Kami ajukan penangguhan) dengan pertimbangan mereka tidak akan melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti dan tak menghambat proses penyidikan,” ujar Suhardi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/10).

Menurut Suhardi, aksi yang berlangsung di Kemendagri merupakan bentuk kekecewaan karena penyelesaian sengketa Pilkada yang tak tuntas. Karena sengketa yang sudah berjalan selama tiga bulan itu, tidak ada penjelasan penyelesaian secara tertulis yang tegas dari pemerintah. Oleh karena itu masyarakat Tolikara berangkat ke Jakarta.

“Kalau di Papua, kalau terjadi hal luar biasa (kabarnya) nggak sampai ke Jakarta, itu yang dikhawatirkan. Di Tolikara benar-benar luar biasa, sulit mencari data di lapangan,” katanya.

Selain itu, Suhardi juga menyisipkan surat jaminan untuk para tersangka dari Asisten Staf Khusus Presiden Jokowi, Riyan Sumindar serta Lenis Kogoya. Ia berharap penangguhan tersebut dapat diterima dan Kemendagri dapat mencabut laporannya.

“Pendemo sebagian besar ialah mahasiswa, mereka mengerti (masalah yang terjadi di Tolikara) karena tidak adanya keadilan, keadilan dalam perspektif resmi dan tertulis dari pemerintah. Kalau terus-menerus ada penahanan sangat sulit sekali dibayangkan apa terjadi,” jelasnya.

Sementara, Ketua Barisan Merah Putih, Wati Martha Kogoya menjelaskan, tujuannya ke Jakarta adalah untuk mencari keadilan. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri dan diarahkan menyelesaikan masalah sesuai jalur konstitusi.

Selain itu, ia mengaku telah bertemu dengan Mendagri Tjahjo Kumolo dan diminta menemui Dirjen Otonomi Daerah. Ketika di lokasi yang dijanjikan, ia tak juga bertemu Dirjen Otda tersebut.

“Saya mau pulang tapi diminta kembali lagi, menemui perwakilan lainnya. Saya tidak mau,” tegasnya.

Setelah itu, Wati keluar untuk makan siang, sesampainya kembali ke tempat aksi, sudah terjadi bentrokan. Wati mengaku tidak tahu persis apa musabab bentrokan itu terjadi, namun ia berharap masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan.

“Lalu keluar orang berpakaian putih-putih dari dalam. Saya ini cinta Indonesia, bapak saya Suwoto Julius Kogoya juga proklamator kemerdekaan Indonesia seperti Bung Karno, tapi untuk bagian Indonesia timur,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sekelompok orang yang diduga sebagai pendukung salah satu calon Bupati Kabupaten Tolikara, Papua menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Kemendagri, Gambir, Jakarta, Rabu (11/10). Kelompok yang menamakan diri sebagai Barisan Merah Putih Tolikara ini awalnya ingin membahas sengketa Pilkada di Tolikara.

Dalam insiden tersebut, polisi sempat mengamankan 15 orang pendemo, namun hanya 11 orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.