Rusia Sebut AS Tak Becus Berdialog,Korut Provokator

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Foto GraniteGrok
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Foto GraniteGrok

Moskow Sayangi.com- Moskow telah mengkritik sikap Washington mengenai kesepakatan nuklir Iran dan juga krisis Korea Utara. “Dua tahun yang lalu, sebuah kesepakatan dicapai pada program nuklir Iran, dan telah disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, seluruh dunia menyambutnya.

Sekarang Washington menarik diri darinya, ini lagi-lagi masalah negotiable sebagai nilai kebijakan luar negeri, ungkap Menlu Rusia Sergei Lavrov

Menlu Rusia itu menyatakan, pemerintah Amerika Serikat (AS) saat ini tidak memiliki kemampaun untuk menyelesaikan masalah melalui jalur dialog. Dia percaya bahwa pendekatan AS untuk menekan isu nuklir, seperti kesepakatan nuklir Iran dan nuklir Korea Utara, hanya memperburuk masalah yang ada di dunia.

Lavrov menuturkan, keputusan terbaru yang diambil Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan nuklir Iran membuktikan itu semua.

Ilustrasi Kartun kesepakatan Amerika terhadap nuklir Iran. Foto Sputnik

Menurutnya, kebijakan yang diambil AS saat ini, dalam upaya menyelesaikan yang ada di dunia justru menimbulkan kekhawatiran membuat masalah tersebut semakin rumit.

“Hilangnya saling percaya menyebabkan keprihatinan yang mendalam. Sayangnya, tren negatif ini hanya diperparah oleh keputusan AS untuk benar-benar menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dalam program nuklir Iran. Dan sebagai akibat ancaman Gedung Putih dalam menyelesaikan masalah Semenanjung Korea dengan cara militer,” kata Lavrov.

Menlu Rusia ini juga menambahkan bahwa keputusan AS mengenai Iran menunjukkan ketidakpercayaan mereka. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi Korut untuk bernegosiasi dengan AS.

Pada saat yang sama, diplomat senior Rusia itu menyebut perilaku Pyongyang juga provokatif. Dia mengungkapkan karena negara tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. “Saya tidak membenarkan Pyongyang, Pyongyang bertindak provokatif, secara terang-terangan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB,” tukasnya.

Sumber: sputniknews.com