Pemerintah Kolombia Ancam Deportasi Turis Peserta Paket Liburan Seks Bebas

Foto Sixcrispie
Foto Sixcrispie

Cartagena, Sayangi.com – Paket liburan yang menawarkan pesta kokain dan seks tanpa batas dipindahkan dari sebuah pulau di Kolombia ke sebuah pulau pribadi rahasia di kawasan Karibia. Paket liburan yang ditentang keras pemerintah Kolombia itu diselenggarakan perusahaan bernama Good Girls Company.

Perusahaan penjual paket tersebut menyatakan, liburan yang mereka iklankan tetap berjalan antara 24 hingga 27 November. Namun, lokasi barunya dirahasiakan setelah pemerintah Kolombia mengancam akan mendeportasi wisatawan yang mempunyai tujuan liburan semacam itu,

Dalam iklan di situsnya, perusahaan tersebut menawarkan pesta “dunia bebas” selama empat hari di pulau priadi pemilik perusahaan. Sebanyak 60 pekerja seks disiapkan guna melayani wisatawan yang.

Paket liburan tersebut dijual seharga USD1.900. Paket liburan ini juga menyuguhkan kokain, minuman dan makanan gratis. Jumlah wisatawan yang datang dibatasi sekitar 30 orang.

Foto Daily Mirror
Foto Daily Mirror

Awalnya liburan yang memicu kemarahan pemerintah Kolombia ini akan digelar di sebuah resort di Pulau Cali, di negara tersebut. Namun, penyelenggara kini memindahkan lokasinya dan merahasiakannya.

Terkait penolakan pemerintah Columbia pihak perusahaan melalui seorang juru bicara menyebutkan “Acara ini tidak berada di Kolombia. Lokasi telah berubah, semua klien kami menyadari adanya perubahan lokasi,”.

”Lokasi untuk acara tersebut berada di sebuah pulau pribadi di lepas pantai sebuah negara di Karibia. Bos saya adalah pemilik banyak pulau,” ujarnya.

Wali Kota Cartagena, Kolombia, Sergio Londono, telah bersumpah bahwa para pejabat di wilayahnya tidak akan membiarkan pengalaman ”drug friendly” tersebut akan berlanjut. Melalui Twitternya Londono menuliskan “Tidak dapat diterima bahwa mereka ingin menjual kita sebagai tujuan seksual, bukan pariwisata yang kita wakili,” .

Semenatar itu Menteri Dalam Negeri Kolombia, Fernando Niño, juga ikut mengecam paket liburan asusila tersebut. Menurutnya, liburan “pariwisata seks” memerlukan izin resmi, dan dipastikan pemerintah tidak akan dikabulkan.

Sorang imam Katolik di Cartenega, tempat perusahaan liburan tersebut berbasis, mengadukannya kepada pemimpin Vatikan Paus Fransiskus tentang pesta pora semacam itu. Namun, panitia penyelenggara bersikeras paket liburan tersebut akan berlanjut.
Sumber: Daily Mirror dan sickchirpse.com