Kapolri Luncurkan Buku Democratic Policing, Paradigma Baru Polisi di Era Demokrasi

Kapolri Tito Karnavian saat peluncuran buku Democratic Policing di LIPI, Jakarta, Selasa (21/11)

Jakarta, Sayangi.Com– Kapolri Jenderal Pol. Muhammad Tito Karnavian meluncurkan buku berjudul ‘Democratic Policing‘ yang ia tulis bersama peneliti LIPI Dr. Hermawan Sulistyo. Buku setebal 494 halaman itu membahas paradigma polisi sipil (civilian police) di era demokrasi yang menjunjung tinggi HAM dan civil society.

Melalui buku ini, Tito juga berbagi kisah selama bertugas di Polri yang merupakan lembaga kepolisian terbesar nomor dua di dunia, setelah Kepolisian Tiongkok.

“Buku ini menjadi rujukan standar bagi seluruh anggota Polri, juga referensi bagi kalangan akademisi dan pemerhati kepolisian,” kata Tito, saat peluncuran buku tersebut di auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa (21/11).

Tito menginstruksikan jajarannya, terutama para perwira, untuk membaca buku ini yang membahas secara komprehensif landasan filosofis, sosiologis dan yuridis berbagai dimensi pemolisian.

Perubahan Kultur

Tito mengungkapkan bahwa sebagai Kapolri ia diberi amanat untuk mereformasi kultur, struktur, dan aturan hukum di jajaran kepolisian.

“Yang belum banyak berhasil adalah mengubah kultur di dalam kepolisian. Inilah yang menjadi tanggung jawab kami, bagaimana mengubah kultur dan mindset bahwa sekarang adalah era demokrasi, sekarang ini yang punya negara adalah rakyat, dan bagaimana bisa menempatkan polisi kita agar dapat dipercaya publik,” kata Tito.

Menurut Tito, buku ini penting sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai Kapolri untuk mengubah mindset jajaran kepolisian yang di masa Orde Baru agak militeristik masuk ke sistem demokrasi pemerintahan sipil. Polisi kini bukan lagi merupakan alat kekuasaan, melainkan institusi yang melindungi dan melayani masyarakat. Karena itu polisi harus profesional, akuntabel, dan dipercaya publik.

Tito mengaku ide menulis buku itu sudah cukup lama, 2 tahun lebih, sejak ia menjabat Asrena (asisten perencanaan) Polri. Dalam menyusun road map strategis kepolisian, ada tahapan trust building dan partnership building untuk membangun institusi Polri yang kuat.

Ia melihat public trust terhadap Polri masih kurang. Karena itu, ia berpikir untuk membuat road map ulang, dan meminta masukan dari pemikir dan tokoh yang peduli pada kepolisian.

Kepolisian Terbesar Kedua

Buku Democratic Policing juga berisi berbagai kisah Tito Karnavian selama bertugas di Polri sebagai lembaga kepolisian terbesar nomor dua di dunia, setelah Kepolisian Tiongkok.

“Pekerjaan menjadi Kapolri adalah salah satu pekerjaan yang paling kompleks dan paling memusingkan, kenapa? China enak, kepolisiannya memang nomor satu terbesar, tapi sistem mereka satu partai, sistem sosialis, yang bisa menggunakan iron hand,” kata Tito.

Sementara negara Indonesia, kata Tito, merupakan negara yang sistem demokrasinya sangat terbuka dan masyarakatnya masih didominasi oleh kalangan bawah. Dua hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah konflik di Indonesia yang terus meningkat.

“Kalau saya bandingkan kerjaan saya dengan teman saya kepala komisioner Singapura, dia bisa sambil mantuk-mantuk datang ke kantor. Tapi kita begitu datang, begitu bangun tidur, langsung sudah ratusan laporan dari seluruh Polda dan Polres. Masalah kebakaran, masalah Polres diserang, masalah penyanderaan. Belum lagi komplain-komplain pribadi, banyak sekali. Ini jadi salah satu pekerjaan berat untuk kepala polisi,” ujarnya.

Tito menuturkan, saat ini Polri punya sekitar 440 ribu personel yang tersebar di 33 Polda, 491 Polres dan lebih dari 5 ribu Polisi Sektor.

“440 ribu personel kepolisian itu lebih besar dari jumlah warga negara Brunei Darussalam. Tapi, jumlah personel sebesar itu, belum tentu sama cara berpikirnya. Perlu ada instrumen agar pikiran dari atas sampai ke bawah sama, mindset sebagai polisi di negara demokrasi. Instrumennya apa? Buku ini penting sebagai buah pemikiran saya ditambah dengan konsultan dan partner yang juga tahu tentang institusi polisi,” kata Tito.

Dalam kesempatan yang sama, Hermawan Sulistyo mengungkapkan keinginan Kapolri Tito Karnavian untuk menuangkan ide-ide tentang sosok polisi di era demokratis dalam sebuah karya tulis.

“Saya bilang pak Tito jangan khawatir soal penyusunan, saya kumpulkan dan catat ide beliau kemudian kita kirim ke Pak Tito lalu kita susun bersama,” kata Hermawan.