Perkosaan Serta Berhenti Menstruasi Hantui Tentara Wanita Korea Utara

Foto Reuters
Foto Reuters

Pyong Yang, Sayangi.com- Negara Korea Utara diperkirakan memiliki 12 juta angkatan bersenjata dan sekitar 40 persennya adalah perempuan. Para serdadu wanita Korut itu menjalani kehidupan yang tak lazim.

Selain menjalani latihan keras yang sejajar dengan kolega pria. Untuk latihan yang keras dan kurangnya asupan gizi tidak sedikit dari mereka yang berhenti mendapat mentrurasi. Selain itu serdadu wanita juga dihantui oleh pelecehan seksual dan pnyerangan seksual.

Dikutip dari BBC news (22/11) Lee So-yeon (41 tahun) mantan tentara Korut wanita yang sudah membelot ke Korsel (2008) menceritakan ia telah tinggal di barak bersama sekitar dua lusin serdadu lainnya selama 10 tahun.

Iapun menuturkan para serdadu wanita tersebut tidur di ranjang bertingkat. Setiap serdadu wanita mendapat laci kecil untuk menyimpan seragam mereka. Wajib ada dua pigura di atas setiap laci: yang memajang foto Kim Il-sung dan Kim Jong-il.

Walau satu dekade berlalu, wanita itu masih mengingat bau yang anyir dari barak beton itu. “Kamu akan banyak berkeringat. Sementara, kasur kami terbuat dari kulit padi kering, bukan katun. Jadi, matras itu menyerap bau keringat dan bau lain. Sama sekali tak nyaman,” tuturnya.

Tidak cukup itu saja,pemicu bau tak sedap lainnya adalah kondisi fasilitas Toilet yang menyedihkan.”Sebagai seorang wanita, salah satu hal terberat yang kami pikul adalah tak bisa mandi dengan benar,” kata dia.

Tak ada fasilitas air panas tersedia. Pancuran terhubung langsung dengan selang dari sungai di pegunungan. “Tak jarang, kodok bahkan ular keluar melalui selang,” tuturnya.

Ayah Lee So-yeon  adalah seorang dosen. Ia tumbuh besar di wilayah utara Korea Utara. Lee So menuturkan saudara pria dalam keluarganya bergabung dengan militer.

Saat Korut dilanda wabah kelaparan tahun 1990-an ia pun memilih bergabung sebagai tentara. Sama seperti dirinya, ribuan wanita lain juga memilih nasib yang menjadi serdadu agar bisa makan setiap harinya.

Setiap tentara Korea Utara wajib mengenakan pin dengan gambar Kim Il-sung dan Kim Jong-il, kakek dan ayah dari pemimpin saat ini Kim Jong-un. Foto Stock
Setiap tentara Korea Utara wajib mengenakan pin dengan gambar Kim Il-sung dan Kim Jong-il, kakek dan ayah dari pemimpin saat ini Kim Jong-un. Foto Stock

Lee So-yeon menceritakan saat umur 17 tahun saat pengalaman bergabung dengan dinas tentara, ia dipenuhi semangat dan rasa patriotisme. Jieun Baek, penulis buku North Korea’s Hidden Revolution menuturkan “Bencana merupakan momentum yang sangat rentang bagi perempuan Korut,”. Saat itu makin banyak wanita memasuki sektor industri.

Kondisi  itulah  lebih banyak wanita yang menjadi subjek penganiayaan, terutama pelecehan dan kekerasan seksual.”Sama seperti koleganya yang pria, para tentara perempuan juga menjalani pelatihan yang keras dan penuh tekanan meski waktunya lebih singkat. Serdadu wanita juga diminta untuk melakukan pekerjaan sehari-hari seperti bersih-bersih dan memasak.

Pekerjaan ini tidak dilakukan oleh serdadu pria. Sementara itu Juliette Morillot, penulis North Korea in 100 Questions menyebutkan “Korea Utara adalah masyarakat tradisional yang struktur sosialnya didominasi pria. Sehingga di negara terus berlaku peran gender tradisional.

Di sana kaum hawa dianggap sebagai ‘tukong unjeongsu’ atau tempatnya di dapur.

Mantan serdadu Lee So-yeon membeberkan akibat latihan keras serta makin menipisnya suplai makanan, berdampak pada para tentara perempuan. “Setelah enam bulan hingga setahun bergabung, kami berhenti menstruasi. Malnutrisi dan lingkungan yang penuh tekanan jadi pemicunya.

Tetapi kondisi tidak mensturasi justru disambut suka cita oelh serdadu wanita. Sebab, bila tiap bulan  kami harus mensturasi, pastinya kami dihadapkan pada situasi yang lebih sulit.” tuturnya.

Lee So-yeon menambahkan, pihak militer masa itu tak menyediakan perlengkapan bagi perempuan untuk menghadapi menstruasi. “Saat datang bulan serdadu wanita pada masa itu masih menggunakan kain putih sebagai penampung darah,” kata Juliette Morillot. “Mereka harus mencucinya tiap malam atau dini hari, saat serdadu pria masih pulas tidur agar tak bisa melihatnya.”

Sejak tahun 2015 Korea Utara memberlakukan warganya menjalani wajib militer tujuh tahun sejak usia 18 tahun. Ditahun inilah Pemerintah Korut berjanji akan menyediakan tampon atau pembalut premium dengan merek Daedong ke seluruh unit tentara wanita.

Walaupun demikian,hingga kini sejumlah tentara wanita yang ditempatkan di pedesaan tak selalu punya akses ke toilet tertutup. Mereka dengan segala keterpaksaan harus buang air di ruang terbuka.

Kondisi inilah yang membuat serdadu wanita dipedesaan dalam posisi rentan. Menurut dua penulis, Jieun Baek dan Juliette Morillot, kejahatan seksual marak menimpa para tentara perempuan.

Saat menanyai sejumlah tentara Korut, Morillot mengaku hal itu terjadi pada orang lain. Tak ada satupun yang mengklaim sebagai korbannya.

Temuan tersebut persis dengan apa yang dituturkan Lee So-yeon. Dia tidak  mengalami kejahatan seksual selama bergabung dalam angkatan bersenjata sejak 1992 hingga 2001. Namun, banyak ‘kamerad’ atau rekannya yang mengalaminya.

“Komandan akan tinggal di kamarnya dalam unit setelah beberapa jam lalu memperkosa para tentara perempuan yang berada di bawah komandonya. Itu terus-menerus terjadi,” tuturnya.

Peraturan Militer Korea Utara menetapkan bahwa pelecehan seksual adalah kejahatan yang sangat serius, dengan hukuman penjara sampai tujuh tahun bagi mereka yang terbukti melakukan pemerkosaan. “Namun untuk kasus perkosaan hampir tidak ada orang yang mau bersaksi. Jadi, para pelaku sering tidak dihukum,” kata Juliette Morillot.

Sikap diam terhadap pelecehan seksual di kalangan tentara berakar pada sikap patriarki masyarakat Korea Utara, imbuh Morillot. Ia menambahkan, perempuan dari latar belakang miskin yang direkrut menjadi anggota brigade rendah dan ditempatkan di barak kecil atau gubuk, menjadi pihak paling rentan.

Beruntung Lee So-yeon, yang bertugas sebagai sersan di unit sinyal yang dekat dengan perbatasan Korea Selatan ungkapnya. Iapun menceritakan kondisi ini memudahkan ia melarikan diri menyeberang ke Korea Selatan