Sri Mulyani: Inflasi Rendah Bisa Mendorong Pertumbuhan Konsumsi

Menteri Keuangan Sri Mulyani/Foto: Sayangi.Com

Jakarta, Sayangi.Com– Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (4/12) kemarin melaporkan inflasi bulan November sebesar 0,2 persen, sehingga inflasi tahun kalender 2017 (year to date/ytd) berkisar 2,87 persen.

Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan inflasi tahun 2017 akan sebesar 3,1 persen (year on year/yoy), atau hampir sama dengan inflasi tahun 2016 sebesar 3,02 persen. Dengan inflasi 3,1 persen di akhir tahun, Darmin memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,1 persen.

Tingkat inflasi yang rendah hingga November 2017, diharapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dapat menjadi momentum pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

“Kita harapkan momentum kepercayaan masyarakat mengenai daya beli dan persepsi `confidence` konsumen tetap terjaga, bahkan bisa membalik,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Senin (4/12).

Sri Mulyani mengharapkan laju inflasi tahun kalender 2017 yang tercatat sebesar 2,87 persen bisa meningkatkan minat masyarakat untuk mendorong konsumsi domestik menjelang akhir tahun.

Pada triwulan III-2017, kinerja konsumsi rumah tangga hanya tercatat 4,93 persen, lebih rendah dari pencapaian pada triwulan II-2017 sebesar 4,95 persen.

Konsumsi rumah tangga yang lebih baik, ujarnya, bisa memberikan dampak positif kepada komponen pertumbuhan lainnya seperti investasi, konsumsi pemerintah dan ekspor pada triwulan IV-2017.

“Investasi bisa mulai `pick up, ekspor kuat, konsumsi (domestik) mendekati lima persen dan konsumsi pemerintah juga berkontribusi sehingga pertumbuhan triwulan empat akan positif dan kuat,” ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan perbaikan kinerja ekonomi pada akhir 2017 bisa memberikan momentum pertumbuhan ekonomi yang lebih positif pada 2018.

Pembenahan ekonomi domestik ini dibutuhkan karena masih terdapat ketidakpastian global di 2018 yang bisa berdampak kepada kinerja ekonomi Indonesia.

Ketidakpastian global itu antara lain terkait dengan rencana reformasi perpajakan di AS serta penyesuaian suku bunga The Fed yang bisa mempengaruhi ekonomi dunia.

“Kalau momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah positif dan kuat, stabilitas tetap terjaga dari sisi inflasi dan nilai tukar, ini memberikan posisi yang jauh lebih baik untuk menghadapi ketidakpastian,” kata Sri Mulyani.