Setnov Mogok Bicara, Sidang Dakwaan Diskors Untuk Periksa Kesehatan

Setya Novanto saatmenjalani sidang perdana sebagai terdakwa.

Jakarta, Sayangi.com– Sidang perdana Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12) diskors hingga waktu yang belum ditentukan untuk pemeriksaan kesehatan terdakwa di pengadilan.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Yanto ini dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan agenda pembacaan dakwaan dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pengadaan KTP-Elektronik.

Namun, setelah sidang dibuka oleh Hakim Yanto dan dinyatakan terbuka untuk umum, terjadi drama dimana Setya Novanto tidak merespons pertanyaan hakim dan mengaku sakit diare selama 4 hari namun tidak diberi obat oleh dokter KPK. Jaksa dan dokter KPK membantah keterangan Setya Novanto, hingga terjadi perdebatan yang membuat pembacaan dakwaan menjadi tertunda dan Hakim menskors sidang untuk pemeriksaan kesehatan Setya Novanto.

Drama pada persidangan perdana Setya Novanto dimulai saat terdakwa tidak menjawab pertanyaan hakim yang menanyakan identitasnya.

“Saya ulangi lagi nama lengkap saudara? Saudara tidak mendengar? Apakah saudara terdakwa bisa mendengarkan pertanyaan saya?,” tanya Hakim Yanto.

Setya Novanto hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan hakim.

Melihat Setya Novanto tidak merespons pertanyaannya, Hakim bertanya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) apakah kesehatan terdakwa sudah diperiksa dokter sebelum dibawa ke Pengadilan.

JPU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Irene Putri menjawab bahwa kondisi kesehatan Setya Novanto baik, karena sudah diperiksa dokter KPK sebelum dihadirkan ke persidangan.

“Sebelum ke persidangan ini sudah diperiksakan oleh dokter karena benar tadi pagi terdakwa mengeluh sakit tapi setelah dicek sakit terdakwa bisa menghadiri persidangan dengan tekanan darah 110/80 dan nadi kuat. Kami juga bawa dokter yang memeriksa terdakwa tadi pagi dan 3 dokter yang eksaminasasi sehari sebelumnya,” kata Irene Putri.

“Saudara didampingi penasihat hukum? Sekali lagi apakah saudara didampingi penasihat hukum?” tanya hakim Yanto.

“Iya yang mulia,” jawab Setnov.

Penasihat hukum Setnov yang terdiri dari Maqdir Ismail, Firman Wijaya dan advokat lainnya lalu menunjukkan identitas di mereka ke hakim.

“Dokter yang memeriksanya ada? Bisa dihadirkan di sini?” tanya hakim Yanto.

“Ada yang mulia, kepada dr Yohanes Hutabarat kami persilakan memasuki ruang persidangan,” kata jaksa Irene.

Setya Novanto dipapah saat masuk ke ruangan persidangan

Setelah dr. Yohanes duduk di kursinya, Hakim Yanto bertanya: Nama Saudara siapa?

Dokter Yohanes: Yohanes Hutabarat, dokter rutan KPK.

Hakim Yanto: Saudara memeriksa terdakwa?

dr Yohanes membenarkan bahwa ia memeriksa terdakwa pada pukul 08.00 WIB, dan saat pemeriksaan terdakwa dapat menjawab dengan lancar.

Hakim selanjutnya kembali bertanya ke Setya Novanto: Saya coba, saya ulangi lagi nama lengkap Saudara, Saudara tidak mendengar?

Novanto: Ya, tidak mendengar.

Hakim Yanto: Apakah nama Saudara Setya Novanto? (hakim mengulangi 2 kali namun tak ada jawaban)

Hakim Yanto: Jadi Saudara Penasihat Hukum, hasil dokter sudah jelas tapi terdakwa tidak jawab pertanyaan saya, apakah ini memang tidak mendengar sebenarnya atau bagaimana?

Jaksa Irene menjawab: “Terima kasih yang mulia kami juga sudah berkonsultasi selain dokter Johanes juga dengan dokter RSCM mengenai kondisi terdakwa dalam keadaan sehat dan layak sidang. Keluhannya tadi yang bersangkutan itu diare 20 kali namun dari laporan pengawal di rutan, sepanjang malam hanya 2 kali yaitu pukul 23.00 dan 02.30 jadi hanya 2 kali dan tidur dari pukul 20.00 dan tidur sampai tadi pagi jadi kami minta sidang tetap dilanjutkan.”

Pengacara Setya Novanto, Maqdir Ismail, menyela: “Kalau menurut kami, soal pemeriksaan dokter ini dari beberapa waktu lalu ada perbedaan antara dokter beliau sebelum ditahan dan dokter RSCM mengatakan bisa ditahan agar tidak terus-menerus polemik. Menurut pendapat kami, sangat patut dan layak minta diperiksa oleh RS yang lain agar diperiksa di RSPAD. Tapi kami tidak mendapat reaksi atas permohonan kami, karena kami anggap kesehatan terdakwa menentukan apakah dapat dilakukan persidangan.”

Jaksa Irene: Terdakwa punya dokter pribadi dan KPK juga minta second opinion IDI dan sudah tunjuk dokter-dokter profesional yang lakukan eksaminasi ke terdakwa 3 dokter dalam IDI dan salah satunya berpraktik di RSCM dan hadir dan bisa mendengar mengenai kondisi kesehatan terdakwa.

Hakim Yanto: Tadi pagi jam 8 terdakwa diperiksa dokter sehat, tapi kemudian sekarang jam 10.30 terdakwa ditanya majelis hakim tentang identitas ternyata tidak ada reaksi, dalam ilmu kesehatan dimungkinkan tidak dalam waktu 5-6 jam berubah drastis?

Dokter menjelaskan bahwa saat diperiksa kondisi terdakwa bagus, gula darah bagus, nadi bagus, dan bisa berkomunikasi. Tim dokter sepakat bahwa terdakwa layak untuk bisa hadir di persidangan. Bisa saja ada perubahan karena kondisi psikis bisa mempengaruhi syarafnya. Tapi, kalau berubah menjadi tidak bisa berbicara, mestinya yang bersangkutan tidak bisa jalan. Tapi ini bisa jalan ke sini.

Hakim Yanto: Sudah jelas bisa perubahan drastis, tapi diikuti tidak bisa jalan?

Dokter: Saya kira begitu.

Hakim kemudian bertanya ke Setya Novanto: “Saya tanya lagi, nama lengkap saudara? apakah nama lengkap saudara Setya Novanto?”

Melihat Setya Novanto tidak merespon pertanyaan hakim, Jaksa Irene Putri menyela: “Kami yakin terdakwa sehat dan bisa disidang. Bagi kami penuntut umum, ini menunjukkan kebohongan oleh terdakwa.”

Mendengar pernyataan jaksa, Maqdir Ismail protes: “Kami keberatan, ini persoalan orang sakit supaya diberikan kesempatan KPK dan IDI punya perjanjian sendiri terhadap orang-orang yang dianggap perlu diperiksa KPK.”

Hakim kembali bertanya ke Setya Novanto sambil menyindir: “Saya lihat terdakwa tadi bisa bisik-bisik dan bisa manggut, jadi nama lengkap saudara? apakah nama saudara Setya Novanto?” tanya hakim Yanto.

Setya Novanto akhirnya membuka suara: “Saya 4-5 hari ini sakit, diare, saya minta obat tidak dikasih sama dokter, saksinya ada.”

“Terdakwa keluhannya batuk dan dikasih obat sama dokter, terdakwa mengeluh diare dan mengaku 20 kali ke belakang dan laporan pengawal hanya 2 kali yaitu pk 23.00 dan 02.30 WIB,” kata jaksa Irene.

“Tidak benar,” jawab Setnov.

“Baik saya coba lagi, nama lengkap saudara? Apakah betul Setya Novanto?” tanya hakim Yanto.

“Ya betul,” jawab Setnov.

“Tempat lahir? Bandung?” tanya hakim Yanto.

“Jawa Timur,” jawab Setnov.

“Umur 62 tahun, lahir 12 November 1955 betul?” tanya hakim Yanto.

“Betul,” jawab Setnov.

“Agamanya Islam?” tanya hakim Yanto.

“Uhuk, uhuk, uhuk,” jawab Setnov hanya terbatuk-batuk.

“Pekerjaan? Ketua DPR atau mantan ketua fraksi partai Golkar? Dengar terdakwa? pendidikan S1 betul?” tanya hakim Yanto dan Setnov direspon hanya dengan anggukan.

Berita Terkait

BAGIKAN