Korut Hampir Lakukan Perang Nuklir Saat Tangkap Kapal AS Pueblo

Foto US Viral Trends
Foto US Viral Trends

Washington,Sayangi.com- Sebuah laporan menyebutkan banyak kru kapal USS Pueblo terus mengalami gangguan stres pasca trauma dan cedera fisik seumur hidup pasca kapalnya diciduk pemerintah Korut.

Namun, seiring berjalannya waktu, para awak kapal membuat situs mereka sendiri yang memberi kesaksian tentang pengalaman mereka. Para ABK kapal tersebut berhasil melobi status sebagai tahanan perang setelah awalnya ditolak oleh mereka, dan menuntut Korea Utara di pengadilan A.S. untuk perawatan mereka.

Sedangkan untuk Pueblo sendiri, secara teknis kapal tertua kedua masih ditugaskan di Angkatan Laut A.S., tetap berada di tahanan Korea Utara sampai hari ini. Saat ini ditambatkan dari Sungai Potong di Pyongyang, tempat ini berfungsi sebagai pameran Museum Perang Pembebasan Tanah Victorious.

USS Pueblo merupakan kapal tempur ringan Angkatan Darat A.S. diluncurkan pada saat Perang Dunia II. Panjang kapal Pueblo lima puluh empat meter. Dan pada tahun 1966 kapal tersebut oleh Angkatan Laut AS dijadikan “kapal penelitian lingkungan”. Kapal tersebut memiliki dua ahli kelautan yang handal.

Namun pemerintah Korea Utara saat itu tetap menganggap Pueblo adalah sebuah kapal mata-mata. Kapal tersebut oleh pemerintah Korut dituduh mencegat dan merekam transmisi nirkabel dan memantau emisi elektronik.

Sejatinya Pueblo merupakan kapal riset yang memiliki kecepatan maksimal hanya tiga belas knot (lima belas mil per jam) tidak seharusnya menempatkan dirinya dalam bahaya nyata. Namun seperti “kapal riset teknis” lainnya, kapal itu bisa berlayar dengan selamat di perairan internasional. Tidak lebih dekat dari dua belas mil laut dari pantai.

Saat itu, sinyal intelijen tetap merupakan bentuk spionase umum dan dasarnya legal, asalkan kapal-kapal yang terlibat tidak menyimpang ke perairan teritorial dan pesawat terbang mengarah ke wilayah udara internasional.

Sinyal elektronik ini hanya bisa beroperasi sepanjang negara-negara yang mereka anggap menghormati norma hukum internasional. Pada Januari 1968, Pueblo ditugaskan oleh NSA untuk mencegat lalu lintas sinyal dari kapal-kapal Soviet di Selat Tsushima antara Jepang dan Korea, dan mengumpulkan laporan di radar pantai dan radio Korea Utara.

Misinya berlanjut tanpa henti sampai bertemu dengan sebuah subchaser Korea Utara (sebuah kapal berukuran korvet) pada tanggal 20 Januari. Dua hari kemudian, kapal tersebut ditemukan oleh dua kapal pukat ikan Korea Utara, yang melewati jarak tiga puluh meter darinya. Kapten Pueblo, Letnan Cmdr. Lloyd Bucher, menginformasikan ke Angkatan Laut A.S dan melanjutkan fase terakhir misinya.

Bucher tidak sadar, bagaimanapun, bahwa ketegangan antara kedua Korea saat itu baru saja meningkat secara dramatis. Menjelang tengah malam pada tanggal 21 Januari, tiga puluh satu penyanderaan penyusup Korea Utara datang dalam jarak seratus meter dari kediaman presiden Korea Selatan, the Blue House.

Gerombolan penyandera Korut ini berniat  membunuh Presiden Park Chung-hee. Belum sempat melakukan niatkan, para gerombolan tersebut baku tembak dengan pasukan Korsel. Dan Korselpun mendesak agar Amerika Serikat melakukan pembalasan.

Pada siang hari pada tanggal 23 Januari, Pueblo sekali lagi bertemu dengan subkork SO-1 kelas lainnya. Kapal bersenjata meriam itu ditutup di Pueblo dengan kecepatan tinggi dan Bucher menaikkan bendera Amerika. seraya menjawab saya di perairan internasional.

Segera setelah itu, dua pesawat tempur MiG-21 Korea Utara menukik rendah di atas kapal mata-mata 890 ton, dan tiga kapal torpedo P-4 bergabung dengan subchaser untuk mengelilingi kapal Amerika. Bucher mengalihkan Pueblo yang lamban itu ke sekeliling dan melaju dengan kecepatan tinggi ke arah timur. Bucher berhasil menepiskan kapalnya dari kapal torpedo yang berusaha mendaratkan sebuah tembakan AK-47.

Perahu Korea Utara mulai menyapu kapal Pueblo dengan tembakan senapan mesin berat dan meledakkannya dengan meriam lima puluh tujuh mil di subchaser. Shrapnel disemprotkan oleh pasukan Korut ke Pueblo dari jembatan dan berhasil melukai kapten kapal Bucher.

Sekarang ini kapal UUS Pueblo menjadi objek wisata di Pyongyang dimana digunakan sebagai alat propaganda pemerintah Korut hingga kini.

sumber: express.co.uk