• Selasa, 23 Juli 2013 00:11
  • Oleh:  Emmaria Haris
Diskusi Publik BEM se-Jakarta dan LEKSMA Jayabaya di Kampus Universitas Jayabaya, Senin (22/7/2013) Diskusi Publik BEM se-Jakarta dan LEKSMA Jayabaya di Kampus Universitas Jayabaya, Senin (22/7/2013) Photo: emil/sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com – Perilaku kekuasaan yang dihasilkan oleh Pemilu selama ini tidak paralel dengan aspirasi rakyat, bahkan cenderung korup, imun terhadap penderitaan rakyat dan mengabdi pada kepentingan modal. Untuk mengawal dan berpartisipasi dalam peningkatan kualitas Pemilu maka mahasiswa dan pemuda harus memperkuat perannya.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK), Ade Reza Hariyadi, dalam diskusi yang dilaksanakan BEM se-Jakarta dan LEKSMA Jayabaya dengan tema “ Dengan Semangat Ramadan, Mari Kita Tingkatkan Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Rangka Mengawal Pemilu 2014” di Kampus Universitas Jayabaya, Senin (22/7/2013).

Peran yang bisa dilakukan oleh mahasiswa menurut Reza bisa dilakukan dalam empat aspek, yaitu: Pertama, memastikan bahwa mesin penyelenggara dan kontestan pemilu taat pada aturan main agar tercipta persaingan yang fair dan adil. Kedua, melakukan pendidikan politik pada rakyat dengan melacak rekam jejak dan janji kampanye para kandidat sehingga rakyat memiliki pengetahuan kritis terhadap calon wakil mereka.  Ketiga, melawan setiap praktek politik uang karena merusak moral rakyat dan ikut berkontribusi terhadap maraknya korupsi pada kekuasaan akibat politik biaya tinggi dalam pemilu. Keempat, mendesak agar parpol peserta pemilu mempublikasikan sumber dana kampanye guna akuntabilitas publik dan menghindari penggunaan dana haram dalam kampanye yang dapat mencederai demokrasi.

“Mahasiswa harus mengawal agar postur kekuasaan yang akan terbentuk nanti tidak sama dengan produk pemilu selama ini yang sarat dengan praktek jual beli suara, inefesien, dan akhirnya sekedar rutinitas dari demokrasi prosedural,” Kata Reza yang saat ini tercatat sebagai kandidat doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia tersebut.

Sementara itu, Pembicara lainnya Anggota DPR RI, Effendi Simbolon menyesalkan  peran pemuda dan mahasiswa telah bergeser kearah yang lebih cair dan mengakibatkan minimnya pemimpin muda yang tampil di kancah nasional. “Sekarang ini peran pemuda sudah tidak tampak lagi, karena terdapat pergeseran nilai dari pemuda tersebut kearah apatis. Itulah yang menjadi koreksi dan harus segera dibenahi oleh para pemuda dan mahasiswa, apalagi dalam hal mengawal Pemilu 2014 mendatang,” Kata Simbolan.

Senada dengan Simbolon, staf ahli Menpora, Sakhyan Asmara yang juga menjadi narasumber dalam acara yang tersebut berharap mahasiswa dan pemuda tetap ditempatkan sebagai kontrol sosial dan politik. Dengan begitu mahasiswa dan pemuda dapat melihat apakah Pemilu yang dijalankan sudah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.

“sebagai agent of change mahasiswa dapat membawa angin perubahan, Jika hitam kata pemuda, maka hitam pula bangsanya,” kata Sakhyan.

Turut memberikan materi dalam acara tersebut yaitu, M Taufik (Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta), Chairuman Harahap (anggota DPR RI), Wawan Purwanto (pengamat Inteligen), dan Pardi  (anggota DPD RI). Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa se Jakarta tersebut diakhiri dengan ramah tamah dan buka puasa bersama. (Emma)