• Jum'at, 21 Februari 2014 22:22
  • Oleh:  Fahri Haidar
KH Nur Muhammad Iskandar KH Nur Muhammad Iskandar Foto: Sayangi.com/Fahri Haidar

Jakarta, Sayangi.com - Pimpinan Pondok Pesantren Assidiqiyah KH. Nur Muhammad Iskandar SQ ikut angkat bicara terkait ramainya issu praktik pengobatan Ustadz Guntur Bumi (UGB)  yang dilaporkan melakukan penipuan.

Menurut KH. Nur, soal metode penyembuhan, MUI melalui KH Ma’ruf Amin sebagai ketua komisi fatwa sudah menjelaskan bahwa itu tidak bertentangan dengan syariat.

“Kalo ada orang yang menyebutkan ada penipuan, penipuannya yang mana?  Kalo namanya pengobatan kemudian ada yang sembuh dan ada yang ngga sembuh itu wajar. Di RS kalo sembuh semuanya ga ada yang mati dong, dokternya juga mati. Wajar-wajar sajalah kalo itu,” jelas sang Kyai kepada wartawan di Pesantren Assidiqiyah Pusat, Kedya, Jakarta Barat, Jum’at (21/2).

Di dalam Islam, ujarnya, dakwah melalui pengobatan itu pernah dilakukan juga oleh Nabi dan para sahabat. Apalagi, dia menambahkan, penyembuhan UGB sendiri pada awal pengobatan telah dikatakan tidak bersandarkan pada kekuatan mahluk, tapi bersandar pada kekuatan Allah. Jangan sekali-kali punya keyakinan bahwa yang menyembuhkan Guntur, tapi Allah.

“Nah sekarang yang dianggap melanggar syariat yang mana? Yang saya tahu dia tidak bertarif, tapi menganjurkan sodaqoh. Kalo sodaqoh ga ditentukan berapa. kalo orang udah sembuh, dai akan tahu kalo sodaqoh itu nilainya amat besar,” tegasnya.

Menurut yang diketahuinya, salah satu di antara manfaat sodaqoh itu bisa menolak bala dan bisa menyembuhkan penyakit. Dan itu sesuai dengan ajaran Rasulullah. Kecuali, katanya, kalau kemudian ada hitam di atas putih bahwa untuk pengobatan ini harus mmbayar 100 juta dan pasti sembuh. Dan kalo tidaksembuh, bisa dibawa ke pengadilan.

“Nah itu lain lagi. Kan ga ada itu kan? Apa yang dipersoalkan? Kalo soal sembuh dan tidak sembuh itu wajar,” lanjutnya.
Kalo kemudian ada yang Sodaqoh sampai ngasih uang ratusan juta, tandasnya, itu adalah hal yang biasa.

“Saya pernah pidato cuma lima menit dikasih mobil mercy harganya 1 miliar. Ga ada yang komplain. Namanya sodaqoh, itu ga ditarifkan. Kalo ada Kyai narif  mau ceramah asal dibayar 100 juta itu baru salah. Tapi yang saya tahu UGB tidak seperti itu. Itu yang saya tahu, di luar itu saya tidak tahu,” katanya sambil tertawa.

Terkait alokasi dana sodaqoh yang diterima, Kyai Nur menjelaskan UGB telah membangun Pesantren Assiddiqiyah ke 7 di Cijeruk Bogor. Santrinya sudah ada sekitar 90an. Mereka, akunya,  banyak menghapal Al Qur’an juga. Bahkan katanya, pesantren itu akan siap menerima sekitar 200 santri baru. Sudah jadi satu bangunan lantai dua kemudian beberapa asrama dan sebentar lagi akan dibangun masjid. Luas tanah semuanya ada 3,5 hektar.

“Dia juga sudah membeli tanah 1 hektar di Serpong untuk dibangun pesantren. Selain itu setiap idul adha dia menyerahkan beberapa ekor sapi yang diserahkan kepada fakir miskin melalui Ponpes Assidiqiyah,” imbuhnya. (VAL)