• Rabu, 28 Agustus 2013 11:52
  • Oleh:  Nur Fitriana
Pemberontak dan rezim Bashar Al Assad masih saling tuduh penggunaan senjata kimia serangan yang mematikan dan menewskan ratusan orang Pemberontak dan rezim Bashar Al Assad masih saling tuduh penggunaan senjata kimia serangan yang mematikan dan menewskan ratusan orang Foto: geostrategicforecasting.com

Moskow, Sayangi.com - Rusia peringatkan negara-negara barat yang tengah merancang intervensi militer untuk tidak turut campur ke Suriah karena akan menimbulkan konsekwensi serius bagi kawasan itu.

Peringatan itu muncul dari Moskow setelah Amerika Serikat dan sekutunya mempertimbangkan serangan ke Suriah untuk menanggapi serangan pasukan pemerintah Suriah atas kelompok pemberontak pekan lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Alezander Lukashevich, meminta masyarakat internasional berhati-hati dalam krisis di Suriah dan mematuhi hukum internasional.

"Upaya-upaya di luar mekanisme Dewan Keamanan, akan kembali menciptakan dalih yang dibuat-buat, yang tidak berdasar, untuk intervensi militer di kawasan yang penuh dengan penderitaan baru di Suriah dan konsekuensi bencana bagi negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara," tegasnya dalam pernyatannya.

Sementara itu Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Gennady Gatilov, mengatakan bekerja dalam parameter politik untuk jalan ke luar bagi krisis Suriah akan amat berguna.
Di London, juru bicara Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan Inggris sedang menyusun rencana pilihan dan setiap tanggapan akan proporsional.

Amerika Serikat menyatakan bukti tentang senjata kimia 'tidak terbantahkan'.
David Cameron sudah memperpendek masa liburannya dan kembali ke London untuk membahas krisis Suriah.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, menyatakan bahwa 'tidak bisa dibantah' bukti-bukti tentang penggunaan senjata kimia dalam serangan Rabu (21/08) yang menewaskan ratusan orang. Baik pemerintah Suriah maupun kelompok pemberontak saling menuduh dalam serangan tersebut.

Lembaga sosial Medecins Sans Frontieres mengatakan tiga rumah sakit yang mereka dukung di Damaskus merawat sekitar 3.600 dengan gejala neurotoksin setelah serangan dan 355 pasien meninggal.

Tim penyidik PBB hari ini, Selasa 27 Agustus, direncanakan akan kembali melakukan pemeriksaan pada hari kedua di kawasan pinggiran ibukota Damaskus.

Dalam pemeriksaan Senin kemarin, salah satu kendaraaan yang digunakan penyidik Klik ditembak beberapa kali oleh penembak gelap di kawasan penyangga yang terletak di antara wilayah yang dikuasai pemerintah dan kelompok pemberontak.

Konflik di Suriah yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun telah memporakporandakan negara itu dengan korban jiwa menurut PBB sudah melebihi 100.000 orang dan lebih dari satu juta orang mengungsi. (FIT/BBC)