• Kamis, 29 Agustus 2013 11:55
  • Oleh:  Nur Fitriana
Rencana serangan kimia menjadi faktor kepanikan rakyat sekaligus kepanikan pasar Suriah Rencana serangan kimia menjadi faktor kepanikan rakyat sekaligus kepanikan pasar Suriah Foto/Ilustrasi : alarabiya.net

Damaskus, Sayangi.com - Mendengar polemik yang terjadi antara rezim Suriah dan kelompok oposisi yang diwarnai dengan campur tangan Amerika Serikat, Rakyat Suriah gelisah dan ketakutan. Mereka merasa memiliki kesuraman di masa depan jika sampai serangan demi serangan siap mengintai negeri mereka.

"Suasana benar-benar dipenuhi kegelisahan dan kecemasan akan kondisi yang mencekam tanpa kami ketahui akan bagaimana," kata Kinana, seorang ibu tiga anak sebagaimana dilansir laman Xinhua.

Ia menambahkan, dirinya mendengar akan ada serangan militer AS di televisi dan hal itu membuat dirinya kuatir sampai tak dapat menyembunyikan perasaan takutnya di depan anak-anaknya.

"Sesegera mungkin saya mengumpulkan perhiasan serta surat-surat penting dan menaruhnya di dalam tas kecil di luar gerbang rumahnya, sehingga ia bisa melarikan diri dengan cepat sambil membawanya dalam keadaan darurat," katanya.

"Memikirkan serangan yang akan dilakukan Amerika membuat saya gemetar ketakutan. Serangan ini berarti akan memungkinkan kerusakan lebih parah di negara yang sudah diporak-porandakan perang ini," kata Amani, seorang guru yang berusia 28 tahun.

Pembicaraan mengenai serangan juga sudah menciptakan kepanikan di pasar saat mata uang lokal turun dari 195 jadi hampir 275 pound Suriah per dolar AS di pasar gelap dalam satu hari. Masih ada kemungkinan mata uang itu akan anjlok kembali di angka 300 pound jika tak terjadi kejelasan akan serangan yang akan dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya.

Menurut laporan media, ribuan orang Suriah telah meninggalkan negeri itu dalam waktu dua hari belakangan ke negara tetangga, Lebanon.

Rakyat Suriah terpaku di kursi mereka sambil menyaksikan saluran televisi untuk melihat apa yang muncul kemudian. Sebagian berusaha memperlihatkan sikap tak peduli mengenai serangan yang belum jelas akan diluncurkan atau tidak. Sementara itu, yang lain takut dengan pendapat bahwa negeri mereka akan digempur oleh kapal perang AS.

Washington dan sekutu Baratnya tengah mempertimbangkan apakah akan melancarkan serangan terhadap Suriah terkait serangan senjata kimia yang mengandung gas syaraf yang menewaskan ratusan orang di pinggiran Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Rezim Suriah telah membantah tuduhan itu, dan menteri luar negerinya menegaskan tak ada negara di seluruh dunia yang akan pernah menggunakan senjata pemusnah massal terhadap rakyatnya sendiri.

Dewan Keamanan PBB telah gagal dalam sidangnya pada Rabu (28/8) untuk mengeluarkan resolusi dengan suara bulat yang mengutuk penggunaan gas syaraf yang diduga dilakukan oleh Suriah, akibat ketegasan Rusia yang masih ingin menunggu hasil penyelidikan PBB atas penyerangan senjata kimia di Damaskus. Namun, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague berkeras bahwa masyarakat internasional masih memiliki tugas untuk bertindak sendiri meski tak tercapai kesepakatan di New York.

Sementara itu sekutu erat Suriah, Rusia, telah berulangkali memveto tindakan yang dapat mengarah pada campur tangan militer asing.

"Tak ada alasan untuk takut, sebab (orang Amerika) takkan berbuat lebih daripada apa yang sudah dilakukan terhadap negeri ini," kata Samir, seorang ahli farmasi.

"Pemerintah Amerika dan sekutu mereka sudah turut campur dalam konflik di negeri ini, sekali ini mereka akan ikut secara langsung bukan dari belakang layar," katanya. (FIT/Xinhua)