• Jum'at, 26 Juli 2013 23:45
  • Oleh: 
Haji Lulung Haji Lulung

Jakarta, Sayangi.com – Perseteruan antara Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)  dan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham “Lulung” Lunggana makin runcing. Haji Lulung menilai terpilihnya Ahok sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta adalah musibah bagi warga DKI Jakarta.

“Kalau mau jujur sebetulnya terpilihnya Ahok ini merupakan musibah bagi warga DKI Jakarta. Kita jadi kasihan pada Gubernur Jokowi yang setiap saat harus mengklarifikasi pernyataan emosional Ahok,” kata Lulung dalam perbincangan via telepon dengan sayangi.com, Jumat (26/7/2013).

Pernyataan H. Lulung itu disampaikan menanggapi tudingan Ahok yang menyatakan bahwa sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Haji Lulung tidak mengerti Perda yang dibuatnya sendiri dan karenanya Mendagri bisa mencopot Haji Lulung sebagai anggota DPRD DKI. Menurut Lulung, sebagai politisi Jakarta dia mengerti betul Perda tentang Ketertiban Umum.

“Perda yang berlaku di Jakarta tentu saya ngerti, Perda di setiap daerah itu beda, masa dibilang ga ngerti.  Terus kalau dia bilang saya harus dicopot oleh Mendagri , yang bodoh itu sebenarnya siapa? yang tidak mengerti aturan siapa?,” Lanjut Ketua DPW PPP DKI Jakarta itu.

H. Lulung menceritakan bahwa beberapa waktu lalu dia juga pernah minta Ahok diperiksa kejiwaannya terkait pernyataan-pernyataan kotroversial yang banyak menuai kecaman, terutama masalah penertipan PKL di Pasar Tanah Abang. Pernyataannya tersebut ternyata mendapat balasan Ahok.

“Awalnya saya hanya memancing, sebagai cara sederhana untuk mengukur apa benar dia kejiwaannya terganggu, dan Ahok membalas seperti itu. Berarti dugaan saya benar dong, dia positif gangguan jiwa,” kata Lulung.

Lulung selanjutnya menjelaskan seputar permasalahan penertiban Pedagang Kaki Lima di Pasar Tanah Abang. Menurutnya, kalau saja Ahok tidak buru-buru sebetulnya para pedagang sudah mau ditertibkan dan tidak menolak untuk direlokasi.

“Saya punya catatan dan dokumen saat dialog dengan pedagang yang berjualan di badan jalan, waktu reses saya mengunjungi mereka. Mereka sadar itu melanggar aturan dan mereka siap direlokasi, tapi tiba-tiba Wagub bilang mau memenjarakan mereka, jadi kacau. Mestinya kan Pemda melakukan pendekatan kemanusiaan, apalagi dalam suasana ramadhan seperti ini," ujar Lulung. (S2)