• Jum'at, 22 November 2013 00:14
  • Oleh:  Febri S
Presiden pertama RI Soekarno dan  Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito Presiden pertama RI Soekarno dan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito Foto: cidc.library.cornell.edu

Beograd, Serbia, Sayangi.com - Surat-surat Presiden pertama RI Soekarno kepada Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito merupakan salah satu dokumen yang dipamerkam dalam pameran bertajuk "Belgrade-Jakarta Diplomatic Relations since its Establishment up to Now " di Gedung Arsip Nasional Serbia.

Pameran yang digelar KBRI Serbia bekerja sama dengan Arsip Nasional Yugoslavia Republik Serbia dalam memperingati 59 tahun hubungan bilateral Indonesia-Serbia diresmikan Duta Besar RI untuk Serbia Semuel Samson, Rabu (22) siang.

Dalam pameran yang dihadiri sekitar 400 undangan, termasuk anggota Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto dan Drs Husnan Bey Fananie itu, surat Soekarno dengan tulisan tangan untuk Presiden Tito itu menjadi dokumen milik Arsip Nasional Serbia.

Surat itu merupakan salah satu dokumen dari ratusan lainnya yang menandai kedekatan dan keakraban hubungan kedua negara, khususnya hubungan diplomatik.

Dubes Semuel Samson mengakui pameran yang digelar untuk merayakan 59 tahun hubungan bilateral Indonesia-Serbia itu sangat monumental, karena dokumen yang dipamerkan merupakan saksi sejarah hubungan yang sangat erat antara kedua negara.

Dubes mengatakan suatu kehormatan dalam acara pembukaan pameran juga dihadiri Ketua Majelis Nasional Republik Serbia, Nebojsa Stefanovic, serta pemuka agama dari Gereja Ortodok Serbia serta Direktur Arsip Yugoslavia Republik Serbia Miladin Milosevic.

Dubes yakin bahwa hubungan bilateral yang erat dan kerja sama dapat diperkuat, diperbesar dan dikembangkan lebih lanjut melalui komitmen yang kuat dari kedua negara.

Ia mengharapkan melalui pameran memberikan simulasi makin eratnya kerja sama kedua negara di masa datang.

"Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Pusat Arsip Yugoslavia bekerja sama untuk mengumpulkan berbagai dokumentasi GNB untuk dapat dimasukkan ke dalam Memory of the World," katanya.

Sementara itu, Anggota DPR RI Drs H Husnan Bey Fananie mengatakan pameran hubungan diplomatik Beograd-Jakarta dari awal hingga kini menunjukkan bagaimana kedekatan antara Presiden RI Sukarno dan Presiden Tito.

"Suatu pameran yang sangat membanggakan hubungan dua negara yang menunjukkan kedekatan pertemanan antara Presiden Tito dan Presiden Soekarno," ujarnya.

Ia mengatakan hubungan indonesia dan Serbia tidak hanya sekadar hubungan diplomasi tapi banyak hal yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya justru oleh Sowkarno dan Tito telah dilakukan kerja sama di berbagai bidang mulai dari militer sampai olahraga.

Sementara itu , anggota Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto mengatakan pameran yang dilakukan KBRI Serbia mengangkat hal-hal yang substantif dalam pengayaan intelektual yang harus diangkat kembali.

Pengayaan intelektual budaya Indonesia itu secara simbolik untuk melihat hubungan Indonesia Serbia dalam kontek "people to people" (P to P) yang lebih kuat dari pada G to G (government).

Selain surat menyurat resmi antara kedua pemerintahan juga dipamerkan foto-foto diplomat Indonesia yang pernah bertugas di Yugoslavia serta cenderamata berapa patung kayu God Shiva on The Garuda yang diberikan Soekarno untuk Presiden Tito pada tahun 1956 serta seperangkat alat minum teh yang terbuat dari perak yang dipersembahkan Presiden Soeharto untuk Presiden Tito pada tahun 1975.

Dalam rangkaian pameran hubungan diplomatik Indonesia Serbia juga ditandatangani nota kesepahaman antara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dengan Asosiasi Olahraga Serbia yang dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Mayor Jenderal TNI (Purn) Suhartono Suratman dan Ketua Asosiasi Olahraga Serbia, Aleksandar 'o'tar, di gedung Arhiv Jugoslavije, Beograd, Serbia