• Sabtu, 14 September 2013 17:27
  • Oleh:  Hurry Rauf
Bonny Hargens saat diskusi“Memilih Capres Secara Rasional” di Jakarta, Sabtu (14/9). Bonny Hargens saat diskusi“Memilih Capres Secara Rasional” di Jakarta, Sabtu (14/9). Foto: sayangi.com/Opak

Jakarta, Sayangi.com - Entah apa yang membuat Bonny Hargens, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) mencela semua calon presiden yang diusung Partai Politik, ketika diskusi bertajuk “Memilih Capres Secara Rasional” di Jakarta, Sabtu (14/9).

Menurutnya, Aburizal Bakrie atau yang akrab dipanggil dengan Ical tidak layak menjadi Calon Presiden karena terlalu dekat dan sekaligus benci dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Ical ini jelas, betapa tidak jelasnya dia. Bang Ical hebat dan begitu dekat dengan SBY. Dia terlalu percaya diri sampai dia lupa diri," kata Bonny.

Bonny juga menyinggung Wiranto, yang menurutnya sudah dua kali kalah dari pertarungan pesta demokrasi nasional lima tahunan tersebut.

"Sekarang Wiranto kembali menjadi Capres 2014. Wiranto sepertinya tidak pernah bercermin. Wiranto memiliki banyak kelemahan meski pun Partai Hanura elektabilitasnya sudah mulai cukup bagus sejak bos MNC group Harry Tanoe bergabung ke Hanura," jelas Bonny.

Sedangkan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa, menurut Bonny sebenarnya hebat. Dia mampu menyeret kader-kadernya untuk membekingi Cikeas dan menjadi besan Presiden SBY.

"Hebatnya lagi, Hatta Rajasa yang juga koordinator Menteri Perekonomian itu mampu menjadikan PAN sebagai partai pribadi dia. Inilah kesalahan Hatta," kata Bonny.

Namun ketika pada sosok Capres Joko Widodo alias Jokowi, Bonny justeru memujinya.

"Tidak akan ada Capres yang bisa mengalahkan Jokowi dalam penyelenggaran Pemilu 2014 yang akan datang. Jika penyelenggaraan Pemilu tanpa Jokowi maka hal itu tidak bisa dikatakan Pemilu. Karenanya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), harus segera mengumumkan Jokowi sebagai Capres," ujar Bonny.

Bonny mengibaratkan Pemilu seperti pentas musik yang memerlukan vokalis. Maka, kata Bonny, Jokowilah vokalisnya. Sedangkan yang lain adalah penontonnya, termasuk peserta konvensi demokrat. 

Ditambahkan lagi oleh Bonny, Jokowi muncul sebagai isyarat kematian elitisme politik.

"Jokowi datang dari bawah, seperti Soekarno," pungkas Bonny.  (VAL)