• Senin, 21 Oktober 2013 00:08
  • Oleh:  Marlin Dinamikanto
Pengamat Politik UI Boni Hargens Pengamat Politik UI Boni Hargens Foto : Sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com - Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens mengaku tidak heran dengan rilis hasil survey Lingkaran Survey Indonesia (LSI).

"Tidak ada masalah yang serius. Denny JA bekerja untuk Golkar, sebagai konsultan, maka wajar kalau survei LSI mengunggulkan Golkar dan tendensius menghajar partai yang dianggap saingan Golkar, terutama NasDem," ungkap Boni Hargens dalam rilisnya kepada sayangi.com yang dikirim dari Jerman, minggu (20/10) menjelang tengah malam.

Boni pun mengungkap, Sebagai bekas faksi internal Golkar, NasDem menjadi ancaman
serius bagi Golkar. Bahkan Surya Palloh menjadi lawan berat bagi ARB. "Apalagi, Nasdem berhasil menjadi primadona di antara partai-partai baru yang muncul setelah 2009," tandas Boni.

Dirilisnya survey itu, imbuh Boni, sebagai wujud kepanikan Golkar setelah sejumlah kadernya berurusan dengan kasus korupsi di KPK. "Jelas bahwa survei LSI tidak menggambarkan realitas yang obyektif," terangnya.

Boni meyakini, Citra Golkar tentunya kian merosot dengan terkuaknya banyak kasus korupsi yang melibatkan kadernya, apalagi ARB sudah dipastikan menjadi calon presiden. "Justru pencapresan ARB itu saya anggap sebagai faktor menurunnya elektabilitas Golkar terkait figur Ical yang penuh beban masa lalu," beber Boni.

Boni juga mengingatkan, kasus pajak dan lumpur Lapindo belum hilang dari ingatan kolektif masyarakat. "Survei LSI berusaha merekayasa realitas ini agar Golkar tampak sebagai jagoan.
politik salon yang tidak berbasis nilai," tuding Boni.

Selain itu, ssambung Boni, Denny perlu menjelaskan kepada publik soal posisi politik LSI sebagai lembaga yang dibayar untuk Golkar dan Aburizal Bakrie. "Itu penting biar masyarakat
politik (the polity) mengerti maksud dan motivasi dari survei itu," pesan Boni. (MD)