Wapres Boediono Ingin Modal Ventura Jadi Primadona

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Presiden Boediono mengatakan, modal ventura di Indonesia masih perlu ditingkatkan dalam upaya untuk membantu para pengusaha kecil menengah menjalankan usahanya di saat mengandalkan bantuan perbankan konvensional sulit diperoleh.

“Pengusaha kecil menengah dan pemula umumnya kesulitan dalam memperoleh modal melalui pembiayaan perbankan konvensional sehingga harus dicarikan model pembiayaan lain,” kata Bodiono saat membuka Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Istana Wapres Jakarta, Jumat (7/6).

Hadir dalam acara itu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Oktohari, serta sejumlah pengurus Hipmi di daerah.

Modal ventura merupakan investasi dalam bentuk pembiayaan berupa penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan swasta sebagai pasangan usaha (investee company) untuk jangka waktu tertentu. Dikatakan oleh Wapres, masalah kesulitan pembiayaan bagi usaha kecil menengah dan pengusaha pemula memang merupakan hal klasik dan kondisi itu bukan saja dialami di Indonesia tapi juga di negara lain.

Namun hal itu bukan berarti tidak ada jalan keluarnya dan harus dicarikan solusinya, apabila menggunakan pembiayaan konvensional perbankan sulit dilakukan.

“Mungkin ada versi-versi lain dimana usaha kecil menengah dan pengusaha pemula bisa mendapat perhatian dari segi pembiayaan dari biasanya. Contoh-contoh di negara lain mungkin bisa kita tiru yang tentunya berjalan sukses,” kata Boediono.

Butuh bantuan Wapres mengatakan, mudah dipahami bahwa para pengusaha muda membutuhkan bantuan modal ventura untuk mengembangkan bisnisnya.

Ini mengingat pada saat baru berkembang, sulit bagi pengusaha muda untuk bisa mengakses layanan bank yang sudah pada dasarnya bersikap konservatif.

“Pemerintah harus turut aktif bagaimana menciptakan versi-versi baru permodalan demi membantu usaha kecil dan menengah yang baru tumbuh,” katanya.

Wapres Boediono mengibaratkan perkembangan kematangan seorang pengusaha muda menjadi pengusaha Indonesia yang handal dan tangguh bagaikan upaya menumbuhkan tanaman yang baik. Upaya itu harus dimulai dengan pencarian benih unggul yang kemudian dipupuk dalam proses persemaian yang mumpuni.

Tentu hal ini bukanlah proses pendek dan bukanlah pekerjaan satu-dua orang, namun sebuah proses panjang dari hulu ke hilir dan setidaknya tiga komponen harus terlibat, yakni pemerintah, pengusaha muda dan para pengusaha yang sudah mapan.

Wapres mengajak Hipmi untuk terus berkomunikasi dengan pemerintah dan membantu memetakan peran ketiganya sehingga bisa saling mengisi.

Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Oktohari mengatakan sebagai organisasi pengusaha muda terus berupaya mendorong peran para pelaku ekonomi nasional dalam pembangunan.

Hipmi juga terus berupaya mendorong peran pelaku ekonomi nasional dalam menyiapkan diri menjelang pasar bebas ASEAN yang akan berlangsung pada 2015.

“Angka 41 menjadi sangat sakral bagi organisasi karena batas anggota aktif adalah 41 tahun dimana setelah usia 41 tahun, seseorang tak bisa lagi diangkat sebagai pengurus organisasi. Dan besok, pada 10 Juni, HIPMI akan berusia 41 tahun,” katanya. (MSR/ANT)