Jepang-Prancis Perkuat Kerja Sama Militer

Tokyo, Sayangi.com – Jepang dan Prancis berencana untuk melakukan pengembangan perangkat keras militer bersama, kata pemimpin kedua negara pada Kamis, sebagai langkah lanjutan Tokyo untuk menguatkan aliansi apabila terjadi peningkatan ketegangan di Asia Timur.

Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe kepada wartawan mengatakan bahwa Tokyo dan Paris telah menyetujui untuk bekerja sama dalam mempromosikan stabilitas di kawasan Asia Pasifik.

“Kami sepakat bahwa Jepang dan Prancis, yang berbagi nilai, kepentingan dan tanggung jawab akan meningkatkan kemitraan khusus,” kata Abe dalam sebuah konferensi pers didampingi Presiden Prancis Francois Hollande.

“Kami menyepakati untuk mengadakan dialog antar pejabat kementerian luar negeri dan pertahanan, juga menyetujui pengembangan perangkat militer bersama dan juga pengendalian ekspor,” ujar dia menambahkan.

Jepang saat ini masih terperangkap dalam sengketa berkepanjangan dengan China atas kepemilikan sejumlah pulau tak berpenghuni di Laut China Timur. Disebutkan bahwa Beijing menampakkan pengaruhnya menyusul pertumbuhan militer mereka.

Pada awal tahun ini, Tokyo menyuarakan kekhawatiran atas penjualan perangkat pendaratan oleh perusahaan helikopter Prancis, dan mengatakan pembelian tersebut membuka kemungkinan Beijing memperkuat kehadiran mereka di sekitar kepulauan sengketa.

Tokyo memulai semacam serangan pesona dunia dalam beberapa bulan terakhir, dengan harapan muncul deklarasi dukungan terhadap mereka terkait perseteruan dengan China, namun sejumlah negara agaknya khawatir memancing amarah China.

“Jepang dan Prancis, yang memiliki kesamaan nilai-nilai dasar tentang kebebasan dan stabilitas, sebuah prinsip umum, memainkan peran utama adalah harapan (seluruh) dunia,” ujar Abe.

Kepentingan utama kunjungan tiga hari Hollande adalah untuk perdagangan, dengan kekhususan terkait referensi industri nuklir kedua negara.

Kunjungan itu diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan perjanjian di sektor tenaga atom, sementara Abe –yang dianggap pronuklir– mengatakan ia akan memerintahkan pengoperasian kembali sejumlah reaktor nuklir Jepang setelah ada jaminan keamanan, meskipun masyarakat masih mengalami kekhawatiran akibat bencana 2011 di fasilitas Fukushima.

Sebelum bencana terjadi, Jepang memenuhi kebutuhan 30 persen listrik mereka lewat pembangkit tenaga nuklir. Saat ini hanya dua reaktor yang difungsikan, menghasilkan sebagian kecil saja dari pasokan untuk kebutuhan energi nasional mereka.

Di sisi lain, sebagai perbandingan Prancis memenuhi 75 persen kebutuhan listrik mereka dengan bergantung pada tenaga nuklir, demikian menurut data Institut Energi Nuklir PBB.

Hollande didampingi enam menterinya beserta 40 direktur utama, termasuk pimpinan perusahaan nuklir raksasa Prancis, Areva.

Dalam sebuah pernyataan yang bernada kebosanan terhadap langkah pengetatan anggaran di Eropa, Hollande melempar pujian atas paket kebijakan Abe dalam upaya membangkitkan perekonomian Jepang –kerap disebut sebagai “Abenomics”– yang di antaranya menerapkan prinsip kelonggaran anggaran dan pengeluaran pemerintah besar-besaran.

“Pemerintah Jepang telah mengambil berbagai langkah semenjak tim PM Abe menapaki kekuasaan,” kata dia kepada wartawan. “Saya tidak pada tempat untuk mengkritik, hal itu untuk kepentingan Jepang.” “Akan tetapi memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan perang melawan deflasi, seraya meningkatkan daya saing bisnis… merupakan berita baik bagi Eropa, karena di Eropa kami juga memprioritaskan pertumbuhan,” ujar dia menambahkan.

Prancis merupakan salah satu pendukung kebijakan berbasis pertumbuhan, bersaing dengan desakan Jerman terkait disiplin fiskal mengingat “eurozone” berusaha menembus tumpukan kabar ekonomi yang melesukan.

Hollande dijadwalkan akan berbicara di hadapan para anggota parlemen Jepang pada Jumat. (RH/ANT)