Diintervensi BI, Fluktuasi Rupiah Diproyeksi Mereda

Jakarta, Sayangi.com – Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih memproyeksikan fluktuasi nilai tukar rupiah cenderung mereda menyusul intervensi Bank Indonesia (BI).

“Potensi pelemahan nilai tukar rupiah masih ada sampai adanya kejelasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, kondisi itu yang mendorong BI untuk melakukan intervensi,” ujar Lana Soelistianingsih di Jakarta, Jumat (7/6).

Menurut Lana, posisi rupiah saat ini merefleksikan harga BBM subsidi. Jika harga BBM tidak jadi dinaikkan, rupiah diperkirakan kembali mengalami pelemahan yang cukup dalam terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada hari Jumat ini (7/6) bergerak menguat sebesar 113 poin menjadi Rp9.787 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.900 per dolar AS.

Lana mengatakan bahwa menguatnya rupiah juga dipicu dari salah satu data klaim pengangguran AS yang tidak sesuai dengan ekspektasi sehingga diperkirakan The Fed akan menunda untuk mengurangi stimulus keuangannya. “Kondisi itu membuat dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang di dunia, termasuk rupiah,” kata dia.

Lana mengatakan bahwa BI yang menerbitkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) diharapkan dapat menandingi pergerakan kurs rupiah di pasar “non-delivery forward” (NDF) yang cenderung melemah. Kepala Riset Monex Investindo Fututres Ariston Tjendra mengemukakan bahwa rupiah dapat mempertahankan penguatan terhadap dolar AS seiring dengan aksi jual dolar AS akibat kekhawatiran investor terhadap data tenaga kerja AS.

“Serangkaian petinggi The Fed telah mengisyaratkan keinginannya untuk mengurangi stimulus jika kondisi sektor tenaga kerja terus membaik. Namun, data tenaga kerja AS menunjukkan masih rapuh,” katanya. (MSR/ANT)