Jangan Ada Pembunuhan Karakter di Pilkada Maluku

Ambon, Sayangi.com – Calon Wakil Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyatakan program debat kandidat yang digelar KPU mestinya tidak dijadikan ajang pembunuhan karakter di antara calon yang akan bertarung di Pilkada Maluku 11 Juni mendatang.

“Jangan manfaatkan program ini untuk saling menyerang antarsesama pasangan calon. Itu sama artinya dengan pembunuhan karakter,” ujar Hendrik Lewerissa, pada debat kandidat pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Maluku, periode 2013-2018 yang digelar KPU di gedung Islamic Center, Ambon.

Penegasan ini disampaikan Hendrik, yang berpasangan dengan calon Gubernur Abdullah Tuasikal, saat memasuki sesi saling lempar pertanyaan di antara para calon. Pada sesi tersebut, Hendrik yang hadir tanpa didampingi Abdullah harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan pasangan nomor urut 5, Said Assagaff-Zeth Sahuburua (SETIA), seputar masalah tingginya angka kemiskinan di Maluku yang menempatkan provinsi “seribu pulau” ini pada urutan ketiga termiskin di Indonesia.

Calon Wagub nomor urut satu tersebut sebenarnya telah menyampaikan strategi pembangunan khususnya menurunkan angka kemiskinan di Maluku yang saat ini mencapai 21,6 persen.

Namun saat dicecar pertanyaan bahwa Maluku Tengah yang pernah dipimpin Calon Gubernur Abdullah Tuasikal selama 10 tahun terakhir merupakan daerah penyumbang terbesar tingkat kemiskinan di Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan masalah itu tidak harus diperdebatkan pada forum tersebut.

Hendrik beranggapan forum tersebut sangat mulia dan penting bagi pasangan calon memaparkan visi, misi serta program-program prioritas membangun Maluku lima tahun mendatang, sehingga masyarakat Maluku yang menyaksikannya melalui siaran langsung beberapa stasiun televisi dapat menilai kualitas masing-masing.

“Biarlah masyarakat yang menilai kualitas dan kemampuan masing-masing pasangan untuk membangun Maluku lima tahun mendatang. Masing-masing tentu memiliki kemampuan berbeda bekerja membangun daerah yang sama-sama kita cintai,” katanya. Dia juga mengajak semua pasangan calon untuk menjadikan acara debat kandidat tersebut sebagai wadah pembelajaran politik bagi masyarakat, sehingga tidak salah menentukan pilihannya pada 11 Juni 2013.

Acara debat kandidat itu, yang menghadirkan tiga orang guru besar Universitas Pattimura dan Universitas Indonesia sebagai panelis serta ratusan pendukung masing-masing pasangan, terkesan menjadi ajang “pembantaian” dan saling serang antarsesama pasangan calon, terutama menyangkut hal-hal negatif yang terjadi selama menjadi pemimpin di daerah masing-masing. Hal ini terjadi karena beberapa Calon Gubernur yang maju bertarung pada Pilkada Maluku masih berstatus pimpinan daerah.

Di antaranya Calon Gubernur nomor urut dua Jacobus Puttileihalat yang berpasangan dengan Arifin Tapi Oyihoe (BOBARA) masih menjabat Bupati Seram Bagian Barat (SBB) dua periode kedua 2012-2017. Begitu pun calon Gubernur nomor urut tiga Abdullah Vanath yang berpasangan dengan Marthin (DAMAI) juga masih tercatat sebagai Bupati Seram Bagiatn Timur (SBT) periode kedua 2012-2017.

Sedangkan Abdullah Tuasikal yang berpasangan dengan hendrik Lewerissa (BETA-TULUS) adalah mantan Bupati Maluku Tengah dua periode yakni 2002-2007 dan 2007-2012, dan calon Gubernur nomor urut lima Said Assagaff yang berpasangan dengan Zewth Sahuburua (SETIA) saat ini masih menjabat Wakil Gubernur Maluku. (MSR/ANT)