Diguyur Hujan, Bojonegoro Minim Areal Tanaman Tembakau

Bojonegoro, Sayangi.com – Areal untuk tanaman tembakau di Bojonegoro, Jawa Timur, pertengahan Juni ini baru mencapai 277 hektare. Hal ini dikarenakan terhalang hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro Khoirul Insan mengatakan, petani yang sudah menanam tembakau sudah ada di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu, Sugihwaras dan Kedungadem.

Para petani di daerah setempat, katanya, menanam tembakau terutama jenis Virginia Voor Oosgt (VO) karena lokasi sawahnya di dataran tinggi, sehingga tidak terlalu terganggu dengan hujan.

“Para petani yang daerahnya di dataran tinggi bisa menanam tembakau sejak Mei lalu,” jelasnya, , Sabtu (8/6/2013).

Namun petani di sejumlah daerah yang sawahnya di daerah rendah, antara lain di Kecamatan Kanor, Sumberrejo, Baureno, masih kesulitan menanam tembakau. Pasalnya di kawasan tersebut hujan mengakibatkan sawah mereka masih tergenang air.

“Tapi petani masih tetap aman menanam tembakau sepanjang mengikuti petunjuk teknis cara menanam tembakau yang benar sampai akhir Juni,” jelasnya.

Petunjuk teknis dimaksud, menurut dia, petani harus membuat sistem jaringan pembuangan air yang baik di sawah mereka. Hal tersebut membuat “guludan” yang tinggi dengan tujuan agar tanaman tembakau mereka tidak terendam air banjir.

“Bagimanapun juga tanaman tembakau tidak tahan dengan air, sehingga adanya genangan air di sawah bisa mengakibatkan tanaman tembakau mati,” ujarnya.

Ia menjelaskan sesuai perkiraan dari sejumlah stasiun pemantau iklim di daerahnya akan mulai masuk musim kemarau pada dasarian ke tiga Juni.

“Musim kemarau akan berlangsung selama tiga bulan mulai Juli sampai September, sehingga musim tahun ini masih aman bagi tanaman tembakau,” katanya.

Ia menyebutkan kebutuhan pabrikan dan pengusaha tembakau yang akan melakukan pembelian tembakau tahun ini hanya 8.726 ton tembakau kering.

Jumlah itu, lanjut dia, jauh berkurang dibandingkan pembelian di tahun-tahun lalu yang jumlahnya bisa berkisar 11.500-12.000 ton.

“Dengan mengacu jumlah pembelian tembakau, maka luas ideal tanaman tembakau hanya berkisar 7.500-8.000 hektare. Padahal kalau normal luas areal tanaman tembakau bisa lebih dari 12.000 hektare,” paparnya. (MI/ANT)