Antropolog: Merindukan Era Soeharto Hal Wajar

Semarang, Sayangi.com – Kalimat ‘Piye kabare? Enak jamanku to…? akhir-akhir ini sangat akrab di telinga kita. Itulah ekspresi sebagian golongan masyarakat yang merindukan hadirnya kembali pemerintahan seperti zaman Orde Baru. Menurut antropolog Universitas Negeri Semarang Nugroho Trisnu Brata, imajinasi sebagian masyarakat itu merupakan kewajaran dan hal serupa pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

“Hal sama pernah terjadi saat Presiden Soekarno. Ketika itu, masyarakat berimajinas lebih enak saat zaman kolonial Belanda yang kerap disebut zaman normal ketimbang zaman revolusi di bawah Soekarno,” katanya di Semarang, Minggu (9/6).

Hal itu dikemukakan mengomentari peringatan hari kelahiran mantan Presiden Soeharto, 8 Juni, serta maraknya ungkapan atas kerinduan zaman pemerintahan Orde Baru yang diekspresikan melalui stiker, gambar, dan sebagainya yang banyak ditemui, terutama di kendaraan bermotor dan bak-bak truk.

Menurut dia, realitas itu terungkap dalam salah satu teori sosial budaya yang disebut teori bandul. Ketika bandul sudah “mentok” ke kanan, akan kembali bergerak ke kiri.

Demikian pula, lanjut dia, ketika masyarakat merasa sudah tidak nyaman dengan masa reformasi, akan merindukan masa sebelumnya, yakni Orde Baru.

“Zaman Bung Karno dahulu pernah juga ada seperti itu. Masyarakat merasa lebih enak zaman normal atau masa kolonial Belanda yang apa-apanya lebih gampang, mencari kerja gampang, harga-harga barang lebih terjangkau,” kata pengajar Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes itu.

Namun, kata dia, semangat revolusi yang didengungkan Bung Karno lebih kuat dan terlalu besar sehingga tak mampu dikalahkan oleh imajinasi sebagian orang, terutama kaum bangsawan feodal ketika itu yang merindukan Belanda kembali menjajah Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa Bung Karno memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat sehingga mampu meneruskan semangat revolusi meski pada akhirnya dijatuhkan di tengah jalan oleh kekuatan Soeharto yang didukung oleh pemodal dan kapitalis asing, seperti Exxon dan Freeport, yang langsung masuk begitu Soeharto berkuasa.

Melihat kondisi serupa yang terjadi pada era reformasi, dia menilai setidaknya ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni masyarakat sudah jenuh dengan Orde Reformasi yang ternyata banyak agendanya tidak terwujud atau masyarakat ingin merevisi dan meneruskan agenda reformasi yang belum selesai.

Berkaitan dengan itu, Trisnu mengatakan bahwa semuanya akan berjalan secara alamiah dan memerlukan proses yang panjang, bergantung dengan langkah pemerintahan sekarang atau ke depan dalam mewujudkan harapan masyarakat yang secara sederhana sebenarnya ingin harga sembako murah dan bahan bakar minyak (BBM) tidak naik.

“Masyarakat bawah kan inginnya seperti itu, harga sembako murah, apa-apa murah, terjangkau. Mereka tidak mau dipusingkan dengan penghitungan-penghitungan, seperti subsidi BBM, dan sebagainya. Ini akan menjadi media pertarungan antara imajinasi masyarakat yang rindu masa Pak Harto dan mereka yang semangat melanjutkan reformasi,” katanya.

Kuncinya, kata dia, bukan pada personal pemimpin, termasuk Presiden, karena saat seperti sekarang tak mudah melanjutkan kekuasaan keluarga seperti Orde Baru yang bisa mempertahankan kekuasaan berpuluh-puluh tahun.

“Bukan hanya Presiden yang menjadi eksekutif, melainkan semua lembaga harus berperan. Seluruh unsur pemerintahan harus memperbaiki kondisi bangsa sekarang ini. Rakyat bawah kan sederhana harapannya, perut kenyang, semua murah, dan sebagainya,” kata Trisnu. (HST/ANT)