Selamat Jalan Pak Kepala Sekolah

Jakarta, Sayangi.com – Wafatnya HM Taufiq Kiemas di RS General Hospital, Singapura, Sabtu (8/6) sekitar pukul 18:02 WIB, mengagetkan sejumlah kalangan. Tidak terkecuali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sangat mengagumi dan menghormatinya sebagai “Kepala Sekolah” diantara lembaga-lembaga tinggi negara.

Pasalnya, Almarhum HM Taufiq Kiemas lah yang berjasa memprakarsai pertemuan rutin diantara lembaga-lembaga tinggi negara, sehingga terjalin komunikasi politik yang lebih sering diantara pimpinan lembaga tinggi negara.

Di situlah Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua MA, Ketua MK, Ketua BPK, dan lainnya bertemu rutin secara informal sehingga mampu mencegah terjadinya “ketegangan-ketegangan politik” yang tidak perlu diantara pimpinan lembaga-lembaga tinggi negara.

Maka tidak berlebihan, bila Presiden SBY mengintruksikan pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati jasa-jasa beliau bagi bangsa dan negara ini. Hal itu kembali ditegaskan SBY saat menjadi instruktur acara pemakaman, setelah malam sebelumnya diungkapkan dalam pidatonya di kediaman Cikeas.

Satu diantara kemampuan berpolitik Taufiq Kiemas adalah kemampuan almarhum dalam berkomunikasi yang diakui oleh sejumlah kalangan. Bahkan sebelum banyak tampil ke publik, Taufiq Kiemaslah yang disebut-sebut sebagai orang di balik layar suksesnya Megawati Soekarnoputri hingga menjadi Presiden RI ke-5.

“Pak Taufiq setidaknya berperan besar membujuk istrinya, Megawati Soekarnoputri masuk PDI,” ungkap Imron Hasibuan, editor buku-buku HM Taufiq Kiemas.
 
Ketika itu, lanjut Imran, PDI di bawah kepemimpinan Suryadi berkeinginan merekrut kader dari keluarga Bung Karno. Namun hanya Megawati dan Guruh Soekarnoputra yang bersedia masuk partai. Lainnya ragu-ragu.
 
“Masuknya Mega ke PDI itu ternyata mengubah sejarah, bukan saja PDI yang akhirnya berganti nama PDI Perjuangan, melainkan sejarah Indonesia secara keseluruhan,” tambah Imran yang acap kali dipanggil Ucok di lingkungan teman-temannya.

Berawal dari Kongres Medan yang deadlock, akhirnya Megawati tampil sebagai Ketua Umum de facto dalam Kongres Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, 1994. Dari sanalah Taufiq Kiemas mengambil peran penting dalam mengkonsolidasi cabang-cabang di kediamannya Kebagusan.
 
“Taufik yang mendampingi dan kapan memutuskan, misalnya supaya tetap melawan Soerjadi menjelang Orde Baru jatuh dan juga memberikan masukan agar Megawati tetap konsisten dengan PDI-P ketika partai itu masih belum besar,” ungkap Aribowo MA, pengamat politik Universitas Airlangga, Surabaya.

Kelebihan Taufiq, tandas Aribowo, adalah kemampuan komunikasinya. Hal inilah yang mampu menutup kelemahan Megawati yang dinilai kaku dalam berkomunikasi. “Saya melihat Taufik lebih luwes dalam berkomunikasi politik dibandingkan Mega, dan kekakuan Megaw dalam berkomunikasi politik itu lah yang diisi oleh Taufik Kiemas.”

Setelah tampil ke publik pun, Taufiq Kiemas berusaha menutup celah-celah kosong yang dapat diperankan oleh posisinya sebagai Ketua MPR. Selain gagasan sosialisasi 4 pilar, terlepas dari Pro Kontra tentang penggunaan istilah pilar, Taufiq Kiemas juga berusaha merajut komunikasi diantara lembaga-lembaga tinggi negara.

Dalam berbagai kesempatan, kenang Anggota DPR-RI Abidin Fikri , Taufiq Kiemas selalu menekankan pentingnya ideologi. “Tanpa ideologi negara ini akan menjadi zombie,” ucapnya. Tapi idelogi yang dimaksudkan bukan dogmatis, melainkan dialektis, sehingga ideologi tetap berinteraksi dengan kenyataan hari ini.

Wahyu Susilo, aktifis Migrant Care yang juga adik kandung penyair Wiji Thukul, pun mengakui komitmen ideologi Taufiq Kiemas. “Di tangan bung TK, MPR menjadi avant garda ideologi dengan gagasan 4 Pilar, mengembalikan (marwah) MPR yang di bawah Hidayat Nur Wahid menjadi macan ompong dan di bawah Amien Rais sekedar dijadikan alat politik,” ucap Wahyu kepada Sayangi.com

Sedangkan Adhie Massardi, juru bicara Presiden RI ke-4 Abdurahman Wahid alias Gus Dur menilai, dalam banyak hal Taufiq Kiemas itu mirip Gus Dur, terutama tentang gagasan-gagasan pluralismenya yang akan selalu dikenang Bangsa Indonesia hingga beberapa tahun ke depan.

“Di tengah politik yang cenderung pragmatis dan transaksional, gagasan 4 Pilar beliau patut diapresiasi,” timpal Ketua Umum DPN Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Mashinton Pasaribu, ” Setidaknya itu menyadarkan bangsa ini untuk kembali ke komitmen ideologi.”
        
Tidak aneh bila kepergian HM Taufiq Kiemas seperti membuat rasa kehilangan di hampir semua kalangan. “Setelah Pak Taufiq, siapa lagi tokoh pluralis yang bisa berperan (efektif) seperti dia,” begitulah ungkap Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila kepada Sayangi.com, di restoran Sederhana, Jl Raya Pasarminggu, minggu (8/8).

Kendati gaya bicaranya santai, tidak serius-serius amat, tapi Laila yang juga Aktifis 80-an ini mengakui isinya menginspirasi ke sejumlah kalangan terhadap komitmen kebangsaan kita. “Itulah kelebihan Bang Taufiq, mampu berkomunikasi hal-hal yang berat menjadi mudah dipahami,” kenang Laila yang mengaku beberapa kali berdiskusi dengan almarhum.

Hajriyanto Y Tohari pun menilai, sosok Taufiq Kiemas adalah pengayom bagi semua golongan. Sebagai Wakil Ketua MPR yang kerap mendampingi beliau saat memimpin rapat, Hajriyanto selain merasa kehilangan partner kerja, juga merasa kehilangan sahabat yang dinilainya sangat bijaksana.

Besarnya komitmen almarhum terhadap kebangsaan, nilai Hajriyanto, menjadikannya sebagai tokoh besar yang dikenang banyak orang. “Bagi saya pribadi, beliau bukan hanya milik PDI Perjuangan, melainkan milik bangsa dan negara,” tegas Hajriyanto.

Ahmad Basyarah, selaku Sekretaris Fraksi MPR yang sering dipanggil beliau berdiskusi banyak hal, menilai almarhum sebagai orang tua, guru sekaligus sahabat yang menyenangkan. “Komitmen beliau terhadap ideologi Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI sangatlah kuat, dan hingga akhir hayatnya beliau berjuang untuk itu,” tandas Basyarah yang juga Wasekjen DPP PDI Perjuangan.

Sebelum sakit dan akhirnya wafat di Singapura, Basyarah yang lebih dikenal dengan panggilan Baskara oleh teman-temannya di lingkungan GMNI, sempat mengantar almarhum dalam perjalanan ke Ende, Nusa Tenggara Timur, terkait peresmian Patung Bung Karno sedang merenung di tepi kolam dan rumah peninggalan Bung Karno saat pembuangan yang diresmikan Wakil Presiden (Wapres) Boediono.

“Pak Taufiq, Saya, mbak Puti (Puti Guntur Soekarnoputri) dan mas Tamtam (Riezky Pratama) berangkat ke Ende tanggal 31 siang, transit dan menginap di Kupang semalam, paginya baru berangkat ke Ende” kenang Basyarah saat mengikuti perjalanan terakhir Alm Taufiq Kiemas.

Dalam kesempatan itu Basyarah sudah mengingatkan almarhum agar tidak mengikuti jadwal protokoler Wapres Boediono, namun sebagai Ketua MPR beliau tetap bersikukuh untuk mengikuti jadwal protokoler. “Padahal, jarak dari turun mobil ke panggung sekitar 300 meter,” ungkap Basyarah.

Padahal, sebagai penderita jantung, lanjut Basyarah, Pak Taufiq mestinya berhenti setiap 10 meter. Tapi ini berjalan terus mendampingi Wapres Boediono. “Sampai panggung masih aman. Bahkan beliau sempat memberikan pidato selama 20 menit,” ujar Basyarah.

Beliau pun masih sempat berjalan ke lokasi patung Bung Karno dan ikut meresmikannya. “Tapi baru beberapa langkah saat menuju peresmian rumah Bung Karno, tiba-tiba tangannya memegang tangan saya. Aku udah nggak kuat, kata beliau,” imbuh Basyarah.

Sejak itu, saat pulang ke Jakarta, beliau tertidur pulas. Sempat menginap di kediaman beliau Teuku Umar, tanggal 3 Juni pagi berangkat ke Singapura. “Dan tanggal 8 Juni pukul 19.02 waktu Singapura, beliau sudah dipanggil yang maha kuasa,” pungkas Basyarah yang malam itu tampak sibuk mempersiapkan protokoler pemakaman di Lanud Halim Perdana Kusuma.

Artinya, memang, beliau meninggal dalam tugas, ucap Budiman Sudjatmiko yang saat acara pernikahannya pun dihadiri almarhum selaku saksi pernikahan. “Semoga beliau qusnul khotimah,” ucap Budiman kepada Sayangi.com

Akhirnya, selamat jalan “Pak Kepala Sekolah”. Jasa-jasamu akan selalu dikenang, bukan hanya di lingkungan PDI Perjuangan, melainkan juga di lingkungan bangsa dan negara ini. (MARD)