Italia Masih Mencari Jati Diri

Milan, Sayangi.com – Italia akan menandai partisipasi kedua mereka di Piala Konfederasi dengan tim kuat yang bertekad lolos ke Piala Dunia untuk ke-19 kalinya, namun tugas Cecare Prandelli untuk menentukan tim intinya belum usai.

Pria Italia berusia 55 tahun itu, yang namanya semakin dikenal saat melatih Fiorentina selama lima tahun, mengambil alih posisi pelatih timnas dari Marcello Lippi setelah Italia tersingkir di tahap grup pada Piala Dunia 2010.

Bencana yang menimpa Italia di Afrika Selatan menandai akhir bagi sebagian pemain yang mengenakan kostum “Azzurri” dengan rasa bangga, termasuk dua bek Fabio Cannavaro dan Gianluca Zambrotta, serta para gelandang Mauro Camoranesi dan Gennaro Gattuso.

Tugas Prandelli adalah mengintegrasikan para pemain muda Italia dengan anggota-anggota tim yang lebih berpengalaman, dan hal itu membuat ia mencoba berbagai taktik yang telah memicu sejumlah kritik.

Bagaimanapun, Prandelli mengatakan dirinya akan tetap pada rencananya untuk membuat Italia kembali disegani.

“Sudah saya katakan kami akan melakukan banyak perubahan, namun hal terpenting bagi kami adalah memainkan sepak bola yang berkualitas,” ucapnya setelah Italia bermain imbang 2-2 dengan Bulgaria di Sofia pada awal kualifikasi Piala Dunia September silam.

“Kami adalah Italia dan kami secara karakter harus memiliki lebih dari model taktik sederhana. Kami harus menemukan kembali identitas kami.” Dari tim Lippi yang membuat Italia menjuarai Piala Dunia untuk keempat kalinya pada 2006 dan tim yang ia pimpin saat Italia hancur pada Piala Dunia 2010, hanya ada sedikit pemain veteran di pemusatan latihan Italia.

Kiper Gianluigi Buffon dan Andrea Pirlo masing-masing telah bermain sebanyak 128 kali dan 99 kali untuk “Azzurri”, di mana sesama rekan setim di Juventus Giorgio Chiellini dan Andrea Barzagli masing-masing baru mengoleksi 58 dan 42 penampilan timnas.

Daniele De Rossi dari Roma adalah sosok paling tua di lapangan tengah dengan 85 penampilan timnas, sedangkan penyerang paling berpengalaman yang dimiliki Prandelli adalah Alberto Gilardino dari Bologna, yang telah membukukan 18 gol dari 51 penampilan namun dalam beberapa waktu terakhir tidak bermain reguler.

Ketika Gilardino dan De Rossi berada di antara 23 pemain yang dibawa pergi, Prandelli tidak takut untuk meninggalkan sejumlah anggota yang lebih berpengalaman, dan memanggil kembali yang lain, ketika adaptasi diperlukan untuk menghadapi sejumlah lawan tertentu.

Riccardo Montolivo dari AC Milan telah mengunci satu posisi inti di lini tengah di belakang dua penyerang, dengan Emanuelle Giaccherini dan Claudio Marchisio juga diandalkan sebagai gelandang.

Prandelli juga mengikutsertakan Alberto Aquilani (Fiorentina), Antonio Candreva (Lazio), Alessandro Diamanti (Bologna), dan Alessio Cerci (Torino) untuk mengisi lini tengahnya.

Setelah menggunakan Mario Balotelli dan rekan setimnya di AC Milan Stephan El Shaarawy untuk menjadi ujung tombaknya pada pertandingan awal musim ketika mereka kalah dari Prancis, Prandelli mengandalkan Balotelli dan pemain AS Roma Pablo Osvaldo di lini depan pada formasi 4-3-1-2 saat mereka bermain imbang 2-2 dengan Brazil di Jenewa.

“Kami tertinggal 0-2 saat turun minum, kami tidak tahu mengapa, namun hal yang penting adalah kami tidak kehilangan kesabaran dan kami selalu mengincar untuk mencetak gol,” kata Prandelli setelah pertandingan.

Sejumlah pertanyaan masih tersisa mengenai kegemaran Prandelli bereksperimen dengan taktik, namun sang pelatih telah memenangi rasa hormat dan menikmati dukungan luas, khususnya dari pers olahraga Italia yang kritis, sejak ia memimpin Italia ke final Piala Eropa 2012.

Meski Balotelli mencetak dua gol indah di semifinal saat menyingkirkan tim favorit juara Jerman, Azzurri takluk 0-4 dari Spanyol pada pertandingan puncak.

Bagaimanapun, Prandelli dan timnya mendapat banyak sanjungan atas usaha mereka, dan Balotelli – pemain yang mengimbangi kehebatannya di dalam lapangan dengan kontroversi di luar lapangan – sekarang menjadi salah satu nama pertama di daftar anggota tim.

Sekarang pemain 22 tahun itu terus mendaratkan kontroversi dan mendapat peringatan perihal tugas-tugasnya setelah diusir keluar lapangan saat Italia bermain imbang di markas Republik Ceko pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia Jumat silam.

“Mario harus menerima dan belajar mengatasi berbagai situasi,” kata Prandelli. “Ia banyak menderita karena dilanggar, namun kami berusaha membuat dia mengerti bahwa ia tidak dapat bereaksi terhadap setiap provokasi.” (RH/ANT)