Peneliti: Sistem Cukai Rokok Indonesia Terlalu Rumit

Jakarta, Sayangi.com – Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta Abdillah Ahsan mengatakan, sistem cukai rokok yang membedakan klasifikasi berdasarkan jenis dan banyaknya batang rokok yang diproduksi terlalu rumit.

“Sistem tersebut menyebabkan rumitnya administrasi cukai mulai dari penetapan harga jual eceran hingga pengawasan harga transaksi pasar yang melebihi harga jual eceran,” kata Abdillah Ahsan di Jakarta, Senin (10/6/2013).

Abdillah mengatakan, klasifikasi cukai berdasarkan banyaknya batang rokok yang diproduksi industri juga mendorong penghindaran cukai rokok secara legal. Perusahaan rokok besar mendirikan perusahaan rokok kecil untuk menghindari atau membayar cukai yang lebih sedikit.

Selain itu, sistem cukai saat ini juga masih membuat rokok mudah dijangkau karena harganya yang murah, bahkan lebih murah dari permen karena ada rokok yang harga per batangnya hanya Rp250. Hal itu bertentangan dari esensi cukai yaitu untuk mengendalikan konsumsi dan mengawasi peredaran rokok.

“Cukai dikenakan pada barang dan jasa legal yang konsumsi dan penggunaanya perlu dikontrol seperti rokok, minuman beralkohol, kendaraan bermotor, perjudian dan aktivitas yang menimbulkan polusi,” tuturnya.

Menurut Abdillah, keterjangkauan rokok yang masih luas mengakibatkan konsumsi rokok yang belum terkendali bahkan terus meningkat. Pada 2009, konsumsi rokok mencapai 251 miliar batang per tahun dan meningkat menjadi 302 miliar batang pada 2012.

Abdillah Ahsan menjadi salah satu pembicara dalam jumpa pers “Kebijakan Cukai untuk Menurunkan Keterjangkauan Rokok” yang diadakan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta di salah satu hotel di kawasan Senayan, Jakarta Selatan. (MI/ANT)